Dengan menghela napas panjang Presiden Bagus Wicaksono pun menjawab, "Mungkin sudah saatnya kita lakukan."
"Maksud bapak presiden?" tanya pria paruh baya yang menjadi salah seorang kepercayaan Bagus Wicaksono, dengan sedikit kebingungan tegang menunggu perintah lebih lanjut dari Presiden Bagus Wicaksono.
"Begini, malam ini sengaja saya undang pak Teguh Priambodo secara khusus untuk diskusi berkaitan dengan persoalan di  tapal batas.  Saya ingin persoalan ini terselesaikan dengan baik tanpa perlu ribut-ribut, apalagi menimbulkan ketegangan dengan tetangga." lanjut sang presiden.
"Seberapa terang tugas yang bapak perintahkan?" tanya pria yang dipanggil Teguh Priambodo tersebut.
"ya, ngga perlu rahasia-rahasian gitu. Yang penting tugas-tugasnya sesuai dengan target. Makanya, saya minta pak Luhut untuk menyusun tim dan perencanaannya. Tujuan utamanya adalah menjaga tapal batas dengan bijaksana, sehingga segala bentuk gangguan dapat terselesaikan dengan baik." jawab sang  presiden.
Sambil menunjukkan beberapa cuplikan berita di media masa, berkaitan dengan penyeludupan dan perambahan hutan di area perbatasan serta aksi kejahatan yang dikuti dengan gangguan kedaulatan di pulau-pulau perbatasan negara. Juga adanya laporan intelejen yang diduga adanya keterlibatan oknum-oknum tertentu berkaitan dengan berbagai pelanggaran di perbatasan.
"Ini jadi keprihatinan saya. jadi saya minta pak Teguh bentuk tim atau pasukan khusus untuk mengatasi persoalan ini. Sementara pertemuan malam ini cukup ini saja, Saya minta dalam 2 minggu ini tim  sudah terbentuk. Perintah sang presiden.
 "Siap, saya akan segera susun dan laporkan kepada bapak secepatnya" jawab Teguh sambil mohon ijin pergi meninggalkan sang presiden.
Presiden Bagus Wicaksono pun pergi berajak dari ruang kerjanya diiringi ajudan dan beberapa anggota paspampres yang selalu setia mengawalnya.
Sebuah Alpard hitam menyambut kedatangan Teguh, yang dengan cepat langsung meninggalkan istana negara. Mengikuti mobil patwal yang sudah menantinya di depan gerbang istana Bogor. Kedua mobil tersebut terus melaju menuju Jakarta. Tak berapa lama Yudha ajudan Teguh Priambodo ini pun bertanya, "Kita kemana pak?"
"Kita ke kantor! Yuda kamu hubungi segera Panglima TNI , Menhan, Kapolri, Ksad, ksau dan ksal, Â kode sandinya BUNGA EMAS DI MEDAN MERDEKA." perintah Luhut kepada sang ajudan.