Meskipun surplus 2019 kemarin, namun terancam  langka. Hal ini diakibatkan oleh harga ayam ras pedaging baik boiler dan layer jantan yang jatuh yakni Rp 6000-Rp 8000 per kg di tingkat peternak. Sedangkan biaya produksi sebesar Rp18.500 hingga Rp19.000/kg.
Sementara, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) melansir, rata-rata harga daging ayam ras di tingkat konsumen sebesar Rp 28.450 per kg.
Anjlok harga daging ayam ras dikarenakan over produksi. Produksi ayam pedaging nasional mencapai 80 juta ekor/minggu, sementara kebutuhan nasional hanya 60 juta ekor/minggu. Kelebihan produksi (over produksi) inilah yang menjadi awal masalah. Kondisi tersebut diperparah imbas wabah Virus Corona yang membuat pasar lumpuh.
Kabar buruknya, jika peternak mengosongkan kandangnya, maka krisis daging ayam ras akan menjadi nyata.
Kabar baiknya, jika pemerintah bertindak cepat mengamankan harga ayam ras di tingkat peternak maka Indonesia bisa lepas dari ancaman krisis daging ayam ras, bahkan bisa membantu negara lain (ekspor).
Jika PSBB diberlakukan di daerah-daerah penghasil ayam sehingga menimbulkan kapasitas produksi turun 50%, Indonesia masih terhindar dari krisis daging ayam ras.
Telur
Produksi telur ayam ras rata-rata mencapai 2,8 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan telur per tahun  1,72 juta ton per tahun.
Ancaman krisis telur berbanding lurus dengan kasus daging ayam ras. Artinya, jika terjadi krisis daging ayam ras maka telur pun akan ikut krisis.
Daging Sapi/Kerbau
 Konsumsi daging nasional diperkirakan mencapai 707.150 ton per tahun. Sedangkan produksi daging nasional dipatok di angka 422.533 ton. Untuk memenuhi kekurangan (defisit) sebesar 284.617, pemerintah menggunakan pasokan daging impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut dari negara Brazil.