Mereka yang terpilih di tampil akn disetiap sudut penting, ala secret service tapi tidak berkostum seragam. Justru bebas, tapi sebaiknya mengenakan kostum daerahnya masing-masing. Masuk lapangan, jauh sebelum acara dengan upacara kebesaran ala raja-raja jaman dahulu.
Nah, semua proses itu diabadikan dengan baik. Oleh TV nasional syukur nationalGeogtaphic atau TV global. Lainnya yang menayangkan. Disitu wajah Menparekraf, Sandiaga Uno, Bersama Gubernur NTB,. Zulkieflansyah, bisa berpakaian ala raja Lombok, atau suku sasak bersama permaisuri dan jajarannya. Elok bukan?!.
Lalu bagaimana bila ikhtiar mengumpulkan pawang hujan sebanyak itu menjelang even dunia, langit masih juga. Menghitam, karena kehendak. Alam.
Saat itu, Diam-diam, secara senyap diperintahkanpesawat Gatotkaca, Â buatan Nurtanio atau PT. Dirgantara Indonesia yang badan pesawatnya dipenuhi. Garam mengandung natrium. Kuat yang ditebar di tengah laut sana.
Pada akhirnya ihtiar mengelola hujan ala tradisi Pawang Hujan peninggalan nenek moyang bisa bersinerji dengan tehnologi rekayasa hujan diatas, bisa dikedepankan di panggung dunia. Bahwa hanya Indonesia yang memiliki. Pasukan penolak hujan yang istimewa.
Memelihara tradisi lokal dalam laku  global, rasanya pantas kita menempatkan profesi Pawang Hujan sebagai atraksi wisata yang super menarik. Pasti orang luar sana terpukau denga lagak laku aksi Pawang Hujan. Lokal kita yang mengusir hujan bermodal soft drink Fanta saja,  seperti aksi Sahabat Saya Benguk, si Pawang Hujan Plamboyan.
Mari. Pak Zulkieflimansyah, mari bersinerji dengan Pak Sandiaga Uno kita 'jual" Aksi. Pawang Hujan nasional yang paten ke mata internasional mulai dari. Sirkuit Mandalika-Lombok. Kalau perlu kita daftar akan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda. Jangan sampai keburu diaku Malaysia, Lho, Pak?!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H