Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karna Allah memberikan kelebihan kepada laki-laki dan mereka yang telah menafkahkan perempuan tersebut ( QS. An-Nisa [5] : 34).Â
Pada ayat tersebut terlihat jelas jika laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, dan menurut penafsiran klasik perempuan tidak boleh di jadikan pemimpin karena perempuan lebih lemah di banding laki-laki dan laki-laki lah yang memberi nafkah. Hal ini yang menjadi kritik oleh kaum hawa terutama pegiat gender seperti Amina Wadud pegiat gender lainnya.Â
Pada kenyataannya di zaman sekarang, tidak semua laki-laki memberikan nafkah yang layak pada istrinya bahkan banyak perempuan sekarang yang bekerja hingga mampu menyelesaikan masalah ekonomi keluarga dikarenakan ketidak mampuan seorang laki-laki memberikan nafkah yang layak pada seorang istri. Oleh karena itu penafsiran ulama-ulama dahulu tentang kandungan ayat tersebut dianggap kurang relevan dan tidak sesuai dengan kondisi wanita modern seperti saat ini. Sehingga diperlukan penafsiran ulang terhadap ayat tersebut.
- Perempuan yang banyak menjadi ahli neraka
Pada hadist yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori menjelaskan bahwasanya penduduk neraka itu kebanyakan adalah wanita. Hadist ini sering di fahami secara tekstual dan hanya penggalannya saja, padahal pada lanjutan hadist tersebut disebutkan bahwa penyebab kebanyakan penghuni neraka adalah  perempuan disebabkan oleh kekufuran mereka terhadap kebaikan kebaikan yang telah di berikan oleh suaminya sampai tidak menganggap kebaikan yang telah ia terima.Â
Menurut Imam Qurthubi, selain kekufuran terhadap kebaikan suami adalah dorongan hawa nafsu yang membuat kebanyakan perempuan tertipu oleh kesenangan dunia sampai melupakan akhirat. tentu tidak dapat dipukul rata jika semua wanita kufur terhadap kebaikan suaminya, pada kenyatannya pada zaman sekarang banyak seorang istri yang mencari nafkah untuk keluarganya malah suaminya yang kufur dengan berselingkuh dengan perempuan lain.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat di ketahui bahwasanya islam memberikan ajaran yang menjungjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Islam datang merubah pandangan-pandangan buruk terhadap perempuan. Tetapi, ada beberapa ajaran ajaran yang diambil dari Al-Qur’an dan hadist yang merupakan rujukan utama bagi umat muslim yang kontradiksi terhadap kesetaraan gender tersebut bahkan memunculkan pemahaman yang misoginis atau pemahaman-pemahaman yang membenci gender perempuan.Â
Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut di antarnya adalah penafsiran yang cenderung hanya tekstual saja tidak kepada penafsiran yang kontekstual juga sering kali dalam memahami ayat Al-Qur’an maupun hadist hanya penggalannya saja tidak menyeluruh sehingga makna yang sebenarnya tidak dapat difahami dengan baik.Â
Selain itu banyak penafsiran klasik yang sudah tidak relevan pada kehidupan zaman sekarang karna sifat manusia yang dinamis terus memiliki perubahan tentu saja dengan slogan Al-Qur’an yang yang shalihun li kulli zaman wal makan butuh penafsiran ulang terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang misoginis untuk mengembalikan ajaran islam yang menjung tinggi harkat dan martabat perempuan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H