Aku menyaksikan sendiri bagaimana suasana ketakutan dikamar itu. Tangis adikku terdengar keras sekali. Ayah dan ibu terlihat berbahagia sesaat lalu terdiam lama. Adiku laki-laki. Dia sangat tampan.
Ibu memberiku tugas baru, yaitu menjaga dan merawat bayi itu jangan sampai orang-orang Mesir melihat keberadaannya. Sebab kalau berita kelahirannya terdengar, nyawa adikku pasti dalam bahaya. Aku kuatir dan takut memikirkannya.
Setelah dia berumur 3 bulan, kami sadar cepat atau lambat dia pasti akan terlihat. Karena selalu saja ada orang yang datang dan memeriksa rumah demi rumah orang Israel dan melihat apakah mereka memiliki anak laki-laki.
Ayah dan ibu sudah memutuskan untuk menaruh bayi Musa di Sungai Nil. Sungguh keputusan yang berat bagi mereka untuk mempercayakan nasib anak itu kepada Allah.
Ayah membuat sebuah keranjang dari daun papirus, pohon papirus memang terkenal tumbuh disepanjang Sungai Nil dan terkenal karena tahan air. Setelah keranjang terbentuk mereka melapisi sbagian dalamnya dengan cairan lengket bernama ter dan gala-gala agar air tidak bisa masuk kedalam keranjang dan keranjang bayi itu mengapung di atas air Sungai Nil yang cukup deras.
Tugasku adalah mengawasi keranjang itu, jangan sampai hanyut terbawa arus apalagi sampai hanyut ke tengah sungai yang ganas dan banyak buaya.
Pada sore hari, arus sungai yang deras membawa keranjang itu semakin ke sisi berlawanan dan menyangkut disisi sungai yang kebetulan dekat dengan tempat Puteri Firaun mandi. Karena menyangkut pada batang pohon, bayi malang itu menangis sejadi-jadinya sehingga membuat Sang Putri menyadarinya. Ia meminta salah satu pelayannya membawakan keranjang dimana asal suara itu berasal.
Ketika dibuka, didapatinya seorang bayi laki-laki yang sedang menagis karena kehausan. Aku segera mendekatinya dan menawarkan diri unuk merawat bayi itu, tetapi juga aku menawarkan ibu untuk menjadi ibu penyusu baginya.
Putri Firaun sangat baik karena bersedia menyelamatkannya dan lebih dari pada itu, ia bersedia untuk menjadi ibu bagi anak itu. Aku dan ibuku di bawa ke istana Firaun dan tinggal untuk menjaga Musa. Musa adalah nama yang diberikan oleh Putri Firaun kepada bayi manis itu.
Aku tidak pernah memberitahukan asal-usul kami kepada siapapun dalam istana itu. Tetapi kami selalu berdoa dan berusaha mengajari Musa untuk tidak lupa bahwa ia seorang Ibrani. Ah, kiranya namaku tercatat dalam kitab keabadian Tuhan, ingatlah sedikit jasaku ya Tuhan, dan jangan lupakan aku hanya karena aku gadis kecil Ibrani.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI