Mohon tunggu...
Ayub Simanjuntak
Ayub Simanjuntak Mohon Tunggu... Lainnya - The Truth Will Set You Free

Capturing Moments With Words

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Natal: Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan

25 Desember 2021   07:09 Diperbarui: 29 Desember 2021   09:20 5603
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tema Natal Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia   ( KWI) tahun ini adalah Cinta Kasih yang Menggerakan Persaudaraan. Tema ini  secara khusus terambil dari satu ayat dalam tulisan Rasul Petrus kepada orang-orang Yahudi yang tersebar di perantuan sekitaran jajahan Romawi pada sekitar tahun 62-64 S.M. 1 Petrus 1 :22 "Karena kamu telah menyucikan  dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh  saling mengasihi dengan segenap hatimu"(TB).

Rasul Petrus yang telah tua menyadari tidak lama lagi saat kematiannya akan tiba mencoba menulis  surat yang isinya berusaha menghibur hati serta memberikan kekuatan kepada saudara-saudara seiman  yang sedang dalam keadaan tertindas di bawah kekejaman Kaisar Nero. Seperti seorang ayah dan mentor, ia menasihati mereka berulang-ulang dalam surat tersebut. Bersabar dalam kesesakan dan penderitaan.

Petrus mengingatkan mereka bahwa penderitaan badani yang sementara dalam hal ini penindasan, diskriminasi politik dan ekonomi serta hukuman penjara yang sedang berlangsung bagi begitu banyak penganut Kristen pada waktu itu  hanyalah persiapan mereka untuk menerima warisan yang sudah disediakan bagi umat percaya dalam Kerajaan Sorga. Ia memerintahkan orang-orang Kristen untuk bersukacita karena mereka  telah mencapai tujuan iman yaitu keselamatan jiwa.

Keselamatan jiwa dalam pandangan kekristenan adalah suatu keadaan dimana iman seseorang merespon undangan masuk dalam keselamatan Tuhan melalui suatu korban tebusan dalam hal ini adalah darah Tuhan Yesus Kristus. Mengapa manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya melalui amal dan kebaikannya? Karena kebaikan manusia sendiri tidak lagi dapat dikatakan murni. Alkitab berkata semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dosa membuat manusia betul-betul jatuh dari standar kemuliaan Allah yang suci, kudus dan mulia.

  • Misteri Natal

Natal sejatinya adalah suatu misteri agung dimana Allah mau menyatakan dirinya menjadi darah dan daging masuk kedalam sendat rahim perempuan. Ia mengambil kodrat manusia agar mendapat bagian dalam darah dan daging yang akhirnya menjadi korban nyata bagi seluruh manusia berdosa. Ia mengalami pergumulan sehari-hari insan yang berjuang melawan godaan hasrat dosa dan pencobaan-pencobaan sehari-hari.

Mengamalkan atau menggerakan persaudaraan adalah suatu respon umat percaya yang telah disucikan oleh kebenaran. Seseorang yang mempercayai Allah tidak mungkin tidak mengasihi sebab Allah adalah Kasih itu sendiri. Dengan kata lain seseorang hanya dapat mengamalkan persaudaraan yang murni jikalau ia telah disucikan oleh kebenaran. Yesus Kristus satu-satunya pribadi yang berani mengklaim dirinya adalah jalan, kebenaran dan hidup itu sendiri.

Bagian ini mengingatkan kita bahwa tidak semua kebaikan atau amal berasal dari kebenaran. Ada suatu kebenaran yang palsu. Seseorang bisa saja menggerakan persaudaraan tetapi tanpa kebenaran maka hasil yang didapat bisa saja mengarah kepada kejahatan. Sebagai contoh sederhana misalnya seorang pejabat negara yang sangat ingin menyenangkan keluarganya rela melakukan tindakan menyalahgunakan jabatannya demi keuntungan keluarga atau teman-temannya.

Menurut Alkitab kesucian diri seseorang tidaklah dapat dikerjakan oleh dirinya sendiri. Sebagai ilustrasi  seseorang yang tercebur ke kubangan lumpur tidak dapat membasuh dirinya dengan bersih dalam kubangan tersebut.

Pembersihan hanya bisa terjadi  ketika ada seseorang yang menarik orang itu ke atas dan mengguyur sekujur badannya dengan air maka orang itu akan menjadi bersih. Dibutuhkan seseorang dari luar keadaan tersebut untuk menolong orang yang terjebak itu. Demikianlah kalau diilustrasikan secara sederhana bagimana Allah Sang Khalik rela menolong manusia menyucikan diri dari lumpur dosa melalui kehadiran diri-Nya dalam kemanusiaan.

  • Sekali lagi Natal dalam Masa Pandemi

Natal kiranya menjadi momen yang tepat bagi kita dalam situasi pandemi, perlambatan ekonomi, kesenjangan sosial dan korupsi yang masih menjadi awan hitam di bangsa ini untuk membersihkan hati nurani dan moral setiap komponen bangsa serta menyadari bahwa seorang Raja Agung rela mengosongkan dirinya dan menjadi sama dengan ciptaan-Nya. Esensinya, Natal juga dimaknai sebagai kesediaan seseorang berkorban bagi sesamanya. Cinta kasih yang berasal dari hati sedianya akan menggerakan persaudaraan.

Mungkin tidak semua dari masyarakat mampu berbuat banyak tetapi setiap orang selalu mampu berkontribusi kepada sesamanya. Tindakan kepedulian sederhana mampu menggerakan banyak hal-hal besar di masyrakat. Tindakan seperti mengamalkan nilai luhur Pancasila, menjaga lingkungan dari masuknya paham-paham radikalisme, menangkal berita bohong di media sosial,  menjaga kebersihan lingkungan, menjadi relawan bagi korban bencana adalah beberapa hal sederhana yang mampu kita kerjakan sebagai bagian dari masyarakat.

  • Natal dan Komersialisasinya

Peristiwa Natal dan Selebrasi Natal memang memilki makna yang berbeda. Peristiwa Natal adalah sebuah pengalaman spiritual sedangkan Selebrasi natal oleh banyak orang telah membawa kepada komersialisasi natal itu sendiri. Sebagai acuan, untuk Natal tahun ini, Bank Indonesia (BI) menyiapkan pasokan uang tunai Rp 115,2 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat jelang Natal dan Tahun Baru 2022 (di akses dari https://nasional.kontan.co.id/news  pada hari Rabu, 15 Desember 2021 pukul 10:01).

Perputaran uang yang fantastis tersebut mengindikasikan adanya sebuah kemungkinan pergeseran dari makna Natal kelahiran Yesus Kristus di Betlehem yang sangat sederhana menjadi sebuah komersialisasi hari besar Natal. Orang-orang akan berbelanja kebutuhan Natal dan tidak sedikit yang memaksakan keinginan tampil memukau pada hari besar tersebut. Hendaknya umat tidak melupakan sejarah awal Natal pertama yaitu masuknya Allah dalam kemanusiaan dengan cara sederhana. Umat senantiasa sadar terhadap panggilan awal gereja menjadi terang dimanapun berada.

Biarlah tema Natal tahun ini menjadi momentum yang baik bagi orang kristiani secara khusus dan seluruh masyrakat Indonesia agar selalu bersatu, bahu membahu dan saling menggerakan semangat persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kiranya Kasih Kristus yang sejati terimpartasi dalam hidup kita melalui semangat Natal ini. Selamat Natal 2021.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun