Siapa yang bisa mengatakan pada wanita itu bahwa putrinya ingin merasakan punggungnya? Prameswari ingin digendong hambin berkeliling di dalam rumah saja sebelum dia tumbuh lebih besar lagi.
Maka ketika pekan depan tiba, gadis kecil itu duduk manis dengan kotak kado di tangannya.
"Ayo, bukalah Nak, Adek pasti senang..." ibunya sumringah tetapi gadis kecil itu menatap gamang.
Ibunya membantu Prameswari, dibukanya pembungkus kado bergambar Putri Elsa yang disukai putrinya. Sebentuk gaun biru muda dengan sembilan puluh sembilan persen kemiripan dengan yang dilihatnya di televisi.
*
Prameswari, gadis kecil itu, belum pernah lupa memanjatkan doa sebelum tidur. Tetapi ketika dia terlelap, mimpi membawanya ke sebuah tempat yang baru. Sebuah ladang jagung atau semacamnya, tetapi dengan terlalu banyak jenis bunga yang disukainya.
Iya, Prameswari suka bunga. Ibunya adalah orang yang mengenalkannya sejak usianya masih empat tahun. Mereka sering menikmati pagi di jalan dekat rumahnya. Ayahnya mendorong kursi roda dan dia berjalan di dekat ayahnya.
Setiap kali melihat bunga liar di sepanjang tepi jalan, ibunya berseru dan meminta Prameswari memetiknya. Ibunya mengumpulkannya dalam sebuah keranjang mainan milik putrinya. Sesampainya di rumah ibunya memberitahu nama-nama bunga yang dibawanya.
Di dalam mimpinya, gadis itu seolah dibuat lupa dengan kesedihannya. Dia berjalan dalam keremangan lampu sumbu, bersama boneka kelinci dan boneka perempuan yang dia beri nama Cilly. Mereka akan mencari bulan di ladang, atau bintang-bintang sahabat bulan.
Iya. Anak kecil sudah sejak dulu dianggap identik dengan permainan. Tetapi Prameswari tidak menyukai permainan jenis apapun yang dilihatnya.Â
Dia sangat ingin merasakan punggung ibunya, dia ingin digendong hambin oleh ibunya, sambil berkeliling di dalam rumah saja.