Tentu saja wanita itu menyambut dengan hati berbunga-bunga. Pertemuan tidak sengaja ini telah membawa keberkahan tersendiri. Sayang mereka tak sempat berjodoh, batin wanita itu. Kini Megantara menjelma sebagai seorang mapan. Sungguh kriteria pria idaman.
*
Di hari yang disepakati, wanita itu menerima kedatangan Megantara.Â
Raisa muncul dari dapur menyuguhkan secangkir teh tawar serta ubi rebus.
Sang suami menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan. Mengganti lantai rumah Megantara dengan bahan granit putih. Tentu saja wanita itu merasa lega. Ia bisa menambah pundi-pundi rupiah untuk Laksmi melanjutkan ke jenjang SMP.Â
Dan lagi, sepertinya saat wanita itu bangun pagi, ia tak perlu lagi menuju dompetnya. Mengkhawatirkan segala kemuraman yang melemahkan jantung.
Justru, jantungnya berdegup kencang, saat wanita itu menerima kedatangan Megantara, delapan bulan kemudian. Hatinya berkecamuk, entah harus senang atau sebaliknya.
"Jika kalian izinkan, saya berniat meminang Raisa sebagai istri..."
Cukup singkat kalimat yang didengar wanita itu. Namun singgasana di hatinya seakan terusik. Berbeda dengan sang suami yang tampak tenang.
Beribu pertanyaan memenuhi alam pikirnya.Â
Dibayangkannya Raisa yang belia bersanding dengan Megantara, teman sekolahnya dulu. Ah, apa tidak terlalu tua? bisik wanita itu lirih.