*
Di negara Matahari, sudah empat tahun lamanya, Ken bekerja apa saja untuk mengumpulkan pundi-pundi.Â
Kesepian ditepisnya dengan sabar, kerinduan kepada gadis pujaan ditahannya dengan ikhlas. Dibesarkannya hati, dipupuknya semangat dengan doa dan keyakinan. Ia tahu, tidak ada yang gratis untuk didapatkan.Â
Ken sama sekali tak membenci papanya Maudy. Dianggapnya ini sebagai gemblengan untuk dirinya, bagaimana ia akan menjadi imam yang teguh dan pantang menyerah.
Nun jauh di tanah air, dengan wajah sendu, Maudy menatap rembulan dari balkon kamarnya.Â
Seandainya saja kasih sayang papa kepadanya tak memisahkan dirinya dengan Ken, mungkin yang terdengar saat ini adalah derai tawa anak-anak mereka. Toh yang membedakan dirinya dan Ken hanyalah nilai di mata manusia. Di hadapan Sang Pencipta, kita semua sama.
SELESAI
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI