Acquired Immunodeficiency syndrom (AIDS) merupakan  sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit ini biasa menyerang remaja yang jika diketahui bahwa seseorang tersebut mengidap penyakit HIV maka akan berujung dengan kematian karena belum ditemukannya obat untuk menyembuhkan penyakit HIV. Sehingga dapat dikatakan penyakit HIV dan AIDS merupakan penyakit yang dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia.
Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10- 20 tahun dan belum menikah. Pada saat usia seperti inilah muncul rasa ingin tahu dan mencoba-coba sesuatu hal yang baru. Karena itulah remaja termasuk kelompok beresiko untuk penularan HIV dan AIDS.
WHO mencatat sejak HIV dan AIDS ditemukan, hingga akhir tahun 2015 terdapat 1,1 juta orang meninggal diantaranya 1 juta remaja. Hingga akhir tahun 2015, terdapat 36,7 juta orang mengidap penyakit HIV diantaranya 34,9 juta remaja, 17,8 juta perempuan usia 15 tahun ke atas.Â
Pada tahun 2015 akhir tercatat sebanyak 2,1 juta orang baru terkena HIV diantaranya 1,9 juta remaja dan 150 ribu anak di bawah usia 15 tahun. Tingginya kasus HIV dan AIDS sejalan dengan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang HIV dan AIDS. Secara nasional presentase penduduk 15 tahun keatas yang pernah mendengar HIV dan AIDS adalah sebesar 57,5% .Â
Sejak awal epidemic HIV dan AIDS, hampir 78 juta orang di dunia telah terinveksi HIV dan sekitar 39 juta orang meninggal akibat HIV. Secara umum, 35 juta orang hidup dengan HIV hingga akhir tahun 2013 dan 1,5 juta orang meninggal akibat HIV pada tahun 3013. WHO memperkirakan 0,8% masyarakat diseluruh dunia usia 15-49 tahun hidup dengan HIV.
Penyakit HIV dan AIDS ini sangat berbahaya sebab pada mulanya tubuh manusia yang memiliki sel darah putih (limfosit) yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh dari serangan virus maupun bakteri kemudian dimasuki virus HIV yang dapat melemahkan bahkan mematikan sel darah putih dan memperbanyak diri sehingga sistem kekebalan tubunya melemah yang menyebabkan penyakit-penyakit lain bisa dengan mudah masuk kedalam tubuh. serta dapat menyebabkan kematian pada seseorang. Banyak faktor yang mendukung terjadinya HIV yaitu dengan  melakukan perilaku seks bebas, transfusi darah dengan si penderita, penggunaan jarum suntik bekas si penderita, pengunaan jarum tindik tato bekas si penderita, dll.
Berbagai upaya program pencegahan sudah dilakukan akan tetapi masih terdapat banyak remaja yang tidak mengetahui dan mengambil sikap pencegahan terhadap penyakit HIV, sedangkan penyakit ini merupakan penyakit yang mematikan. Kurangnya pengetahuan mengenai penyebab dan cara menularnya penyakit ini membuat remaja tidak tahu dan tidak dapat mengenali penyakit HIV. Sehingga upaya untuk menurunkan kejadian HIV dan AIDS diantara remaja membutuhkan penanganan yang lebih lanjut.Â
Beberapa kegiatan untuk mengurangi HIV dan AIDS diantaranya dengan pendidikan kesehatan, pemberian materi atau sosialisasi tentang bahayannya HIV. Karena dapat diketahui bahwa pengetahuan yang baik akan mendukung sikap remaja tentang HIV dan AIDS. Hal ini dikarenakan pengetahuan sikap yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih langgeng atau lebih lama.
Pendapat ini diperkuat oleh salah satu penelitian yang berpendapat bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang PMS atau Penyakit Menular Seksual dengan sikap seksual remaja. Sikap akan mempengaruhi perilaku remaja dalam kesehatan reproduksi. Selain sikap dan pengetahuan, perilaku juga dipengaruhi oleh pengalaman, sosial ekonomi, fasilitas (sarana dan jarak pelayanan kesehatan), budaya dan sebagainya.Â
Perilaku berkaitan dengan pengetahuan terhadap pencegahan HIV dan AIDS, dengan meningkatnya pengetahuan tentang HIV dan AIDS maka menimbulkan perilaku/sikap terhadap pencegahan HIV Â akan meningkat sehingga akan mengakibatkan tindakan pencegahan berdasarkan pengetahuan yang ia miliki.
Secara teori, pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku atau tindakan seseorang (overt behavior). Apabila perubahan perilaku didasari dengan pengetahuan dan sikap yang positif, maka akan menyebabkan langgengnya perilaku (long lasting).Â
Teori tersebut mengandung makna apabila perilaku seseorang tidak didasari dengan pengetahuan dan kesadaran, maka kemungkinan bisa mendorong terciptanya perilaku yang tidak berlangsung lama
Dengan demikian pengetahuan yang benar akan menimbulkan sikap yang benar dan berlangsung lama pula. Seorang remaja yang mendapat pengetahuan tentang penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini akan dapat melakukan pencegahan atau tindakan preventif supaya tidak terkena virus HIV ini. Akan tetapi pengaruh dari media massa dan pengaruh orang lain juga diaggap penting dalam pembentukan sikap seseorang. Karena dari dua faktor ini informasi mengenai HIV dan AIDS, penularan, pencegahan dan bahayanya akan membentuk dan mempengaruhi sikap seseorang.
Sikap yang sudah terbentuk untuk dapat mengenali apa itu HIV dan AIDS akan menjadikan orang tersebut terhindar dari HIV dan AIDS serta dapat menjalani kehidupannya sehari-hari dengan aman dan tenang. Sikap remaja yang harus ada disetiap masing-masing orang yaitu dengan menghindari perilaku yang dapat beresiko untuk terkena HIV dan AIDS seperti menghidari pergaulan bebas, dalam memilih teman supaya untuk selektif atau memilih-milih mana teman yang akan berdampak baik atau berdampak buruk baginya, menghindari melakukan transfusi darah dengan orang yang sudah terkena HIV, dan berhati-hati dalam menggunakan jarum suntik, dll. Serta juga diharapkan kepada remaja untuk rutin melakukan tes kesehatan di puskesmas, atau rumah sakit sekitar agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit.
Remaja diharapkan juga untuk memiliki sikap yang benar yaitu sikap biasa saja terhadap dengan Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) karena bagaimanapun orang dengan HIV dan AIDS yang masih hidup memiliki keinginan untuk bertahan hidup dan melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa adanya diskriminasi. Karena yang seperti yang diketahui bahwa HIV dan AIDS ini menular hanya melalui beberapa hal tsb. Jadi sudah seharusnya kita bersikap biasa saja bukan menghindar serta dapat memberikan motivasi atau dukungan kepada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupannya. Seharusnya yang remaja hindari adalah penyakitnya yaitu HIV dan AIDS bukan orangnya.
 DAFTAR PUSTAKA
- Djuanda. 2007. HIV/AIDS Pendekatan Biologis Molekuler. Klinis dan Sosial. Airlangga University Press. Surabaya.
- Notoatmodjo S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
- WHO. (2016). HIV And AIDS. Http://www.Who.Int/Hiv/En/. Diakses Tanggal 28 Desember 2019.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI