4. Penerapan ( Future)
Â
Setelah menyelami modul 2.3, saya merasa begitu bermotivasi untuk mengaplikasikan tiga kompetensi inti dalam seni coaching: kehadiran yang tulus, mendengarkan dengan sepenuh hati, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam setiap dialog coaching. Bagi saya, ini adalah panggilan spiritual untuk merancang rencana, merenung, menyelesaikan masalah, dan melakukan kalibrasi, menjadi ritus refleksi diri yang mengangkat jiwa ke dimensi yang lebih dalam.
Â
Dalam memberikan umpan balik, saya berusaha menjembatani setiap momen dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching, melihat setiap kesempatan sebagai peluang untuk menyentuh kebijaksanaan dan memberikan inspirasi. Rangkaian supervisi akademik yang saya terapkan diarahkan oleh landasan kuat paradigma berpikir coaching, menjadi fondasi yang mengokohkan upaya saya dalam mendukung pertumbuhan dan pembelajaran.
Â
Namun, saya tak berhenti di situ. Dengan semangat yang berkobar, saya mengejar keunggulan dalam seni coaching. Saya percaya bahwa setiap latihan, setiap praktik coaching dengan rekan sejawat, murid, dan siapapun yang membutuhkan bimbingan, adalah perjalanan menuju kebijaksanaan yang lebih tinggi. Setiap momen latihan adalah peluang untuk menambah jam terbang, menyerap pengalaman, dan menciptakan ruang bagi pertumbuhan.
Â
Visi saya menjelajahi jauh ke cakrawala, di mana seni coaching bukan hanya keterampilan, melainkan mantra yang menciptakan kehidupan yang lebih berarti. Saya merintis alur inspirasi, membimbing orang lain menuju cahaya pengetahuan, dan menciptakan warisan positif yang akan terus bersinar.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI