Mohon tunggu...
Ahmad Surya Fajar Siregar
Ahmad Surya Fajar Siregar Mohon Tunggu... Mahasiswa - ASFS Channel

Saya mahasiswa IAIDU ASAHAN yang berusaha berbuat sebisa saya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pendidikan Agama dan Pendidikan Karakter

10 Januari 2023   22:10 Diperbarui: 10 Januari 2023   22:15 237
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Disusun oleh :

1. AHMAD SURYA FAJAR SIREGAR 

2. LIA CAMANGGI

3. NILA SUSWITA

PRODI  : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS : TARBIYAH

SEMESTER : 7 (TUJUH)

MATA KULIAHP : ENDIDIKAN ISLAM DALAM SISDIKNAS

DOSEN : ASWAN DAULAY, S.Ag. MM 

A. Pengertian Karakter

Pengertian karakter secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa latin kharakter atau bahasa Yunani kharassein yang berarti memberi tanda (to mark), atau bahasa Prancis carakter, yang berarti membuat tajam, Dalam bahasa Inggris character, memiliki arti: watak, karakter, sifat, dan peran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat,watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari pada yang lain.

Secara terminologis, para ahli mendefinisikan karakter dengan redaksi yang berbeda-beda yakni :

Endang Sumantri menyatakan, karakter ialah suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang sehingga membuatnya menarik dan atraktif, seseorang yang unusual atau memiliki kepribadian eksentrik." 

Doni Koesoema memahami karakter sama dengan kepribadian, yaitu ciri atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil.

Pendidikan karakter merupakan pendidikan ihwal karakter, atau pendidikan yang mengajarkan hakikat karakter dalam ketiga ranah, yaitu cipta, rasa, dan karsa. 

B. Problematika dan pemberdayaan pendidikan Islam 

Problematika Pendidikan Agama Islam adalah permasalahan- permasalahan, persoalan-persoalan, kesenjangan-kesenjangan yang menjadi halangan yang ada dalam sebuah proses Pendidikan Agama Islam baik sebagai sebuah disiplin ilmu, Institusi ataupun jalan hidup, yang menjadi sebuah tantangan bagi setiap manusia muslim untuk mencari solusinya.

Problematika Pendidikan Agama Islam tidak bisa terlepas dari ruang lingkup pendidikan itu sendiri. Ruang lingkup pendidikan ada tiga yaitu sekolah, rumah dan lingkungan. Disetiap ruang lingkup pendidikan pasti ada problematikanya masing-masing dan berpengaruh terhadap proses pendidikan diruang lingkup lainnya. 

 Semua problematika di setiap ruang lingkup harus dicari solusinya agar setiap proses Pendidikan Agama Islam di setiap ruang lingkupnya bisa berjalan maksiamal dan saling beriringan, apabila hanya satu ruang lingkup saja yang menjadi pembahasan dan dicari solusinya maka prosen Pendidikan Agama Islam di ruanng lingkup yang lain akan kurang maksimal.

Ini semua adalah tugas setiap individu muslim khususnya yang berkecimpung di dunia Pendidikan Agama Islam baik di sebuah institusi ataupun dilingkungan masyarakatnya. Berarti apabila dilihat dari aspek ruang lingkup pendidikan, problematika Pendidikan Agama Islam terbagi menjadi tiga, problematika Pendidikan Agama Islam di sekolah, problematika Pendidikan Agama Islam dirumah dan problematika Pendidikan Agama Islam di lingkungan masyarakat.

C. Manajemen pembelajaran dan manajemen kelembagaan 

1. Manajemen Pembelajaran 

Manajemen sangat perlu dan menentukan dalam proses belajar dan mengajar. Kenyataan tersebut tentunya menunjukkan bagi kita bahwa peran managemen semakin diperhitungkan dalam membangun pendidikan yang bermutu disekolah. Pendidikan dan latihan selalu cenderung lebih tergantung pada penemuan sains dan oleh karena proses ajar-mengajar telah ditekankan penting seni dan keterampilan. Secara tradisional, organisasi dipandang sebagai cara mengatur sumber-sumber untuk mencapai sejumlah tujuan yang telah ditetapkan.

Selanjutnya, Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkin belajar secara keseluruhan lebih berarti apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia harus lebih termotivasikan untuk belajar, dan mengawasi secara baik. Sehubungan dengan waktu yang ditetapkan dan kemampuan guru sebagai pengelola selalu terbatas, maka para tenaga pengajar sedapat mungkin mengkonsentrasikan terhadap pelaksanaan pekerjaan dengan meniadakan peranannya yang unik dalam pengoraganisasian sebagai pengelola sumber belajar.

2. Manajemen Kelembagaan

Tujuan penyelenggaraan pendidikan menengah umum (SMU) dan (SMK) adalah untuk mempersiapkan peserta didik dalam menuju pendidikan tinggi, karena itu fungsinya lebih pada penyiapan siswa dalam kerangka akademik serta dasar--dasar pengetahuan sebagai landasan kuat untuk tumbuhnya sikap dan moral sebagai ilmuan. Dalam Islam, pendidikan berasal dari kata "tarbiyah" dan bahasa berasal dari bahasa Arab, merupakan proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya, proses tersebut dilakukan melalui pendidikan sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.

Menurut Dale, struktur itu adalah mekanisme organisasi. Pada struktur itulah ditemukan apa yang harus dikerjakan setiap personalia organisasi dan akan terlihat jelas implementasinya dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari.

Manajemen dalam prinsifnya adalah integrasi dan penerapan ilmu serta pendekatan analisa yang dikembangkan oleh berbagai disiplin ilmu. Tiap organisasi ataupun lembaga memerlukan pengambilan keputusan, pengorganisasian aktivitas, penanganan manusia, pembagian tugas dan wewenang, evaluasi prestasi yang mengarah kepada sasaran kelompok yang semuanya ini sebagai aktivitas manajemen. 

Inti dari manajemen itu sendiri adalah leadership yaitu kemampuan untuk menggerakkan orang-orang untuk mengikuti pemimpin. Sebagaimana falsafah managemen mengatakan bahwa suatu keseluruhan atau pengetahuan dan kepercayaan yang merupakan dasar yang luas guna mendeterminasikan pemecahan-pemecahan sejumlah problema dalam sebuah lembaga organisasi.

D. Kaitan Antara Pendidikan Agama dan Pendidikan Karakter

Pendidikan agama mempunyai cakupan yang sangat besar, sebagaimana manfaat dan tujuannya semacam disebutkan dalam PP RI No. 55 Tahun 2007 diatas, yaitu bermanfaat untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan beradap mulia dan sanggup menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan antar umat beragama.

Sementara tujuannya adalah mengembangkan performa peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan kualitas-kualitas agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Berdasarkan manfaat dan tujuan pendidikan agama tersebut, pendidikan agama setidaknya mengajarkan pengetahuan agama yang meliputi Quran/Hadis sebagai dasar agama, Sejarah Kebudayaan Islam (sebab berkaitan dengan sejarah kebudayaaan Islam), Aqidah sebab berkenaan dengan keimanan/keyakinan, Fiqih untuk faktor yang berhubungan dengan ibadah atau pun pengamalan aliran agama dalam konteks ibadah, dan Adab sebagai pembentukan budi pekerti yang luhur, yang di dalamnya tergolong adab terhadap Allah, sesama manusia, diri sendiri, dan dengan lingkungan alam semesta.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun