Sejak awal pemerintahan Jokowi, pembangunan infrastruktur menjadi tema sentral dan prioritas sebagai upaya peningkatan belanja; sementara pemberian subsidi dalam energi sangat dibatasi. Dalam hal iklim usaha, berbagai paket stimulus ekonomi diterbitkan untuk memberikan kemudahan dan menarik minat investasi domestik dan asing.Â
Untuk mengeliminasi pengikis daya beli masyarakat, inflasi sudah dapat dikendalikan dan gambarannya diberikan pada peraga berikut ini.
Peraga-4 : Tingkat InflasiÂ
![Inflasi YoY - koleksi Arnold M.](https://assets.kompasiana.com/items/album/2017/08/24/tingkat-inflasi-599e9650ab12ae5b7202c282.png?t=o&v=555)
Sejak 2015 tren penurunan inflasi terus berlangsung menuju kisaran 4%. Kondisi nilai tukar mata uang Rupiah (IDR) terhadap valuta asing, terutaman Dolar Amerika (USD) pada posisi stabil dengan rentang IDR 13.300 - 13.400 (untuk USD 1). Pada 2015 dan 2016 dalam kondisi nilai ekspor turun, masih terjadi surplus dalam perdagangan.
Dengan kondisi moneter dan perdagangan global stabil, Jokowinomics belum sepenuhnya mengadopsi menu Reaganomics atau Japanomics yaitu meningkatkan dan maksimalisasi defisit anggaran. Bendahara Umum Negara, yaitu Menteri Keuangan, cenderung membatasi defisit dan berupaya meningkatkan penerimaan negara melalui pajak bukan relaksasi. Kondisi ini menyebabkan menu Jokowonomics tidak dapat disamakan dengan Reaganomics atau Japanomics sehingga jangan mengharapkan hasil optimal; ibarat menu "kurang bumbu".
Arnold Mamesah - 24 Agustus 2017
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI