"Akh masa pemimpin yang benarin," jawabku asal dengan maksud supaya dia berhenti protes.
"Bukan dia, tapi cari orang ahli. Cari sampai ketemu," katanya tegas.
"Jangan berpikir jadi pemimpin itu enak-enak doang. Pemimpin itu harus punya misi," lanjutnya.
"What? Anak kecil ini bicara misi," kataku dalam hati.
"Waktu aku kelas 2 dan jadi ketua kelas aku punya misi, masa pemimpin PAM tidak punya?" lanjutnya sok dewasa.
"Emang misi kamu apa?" tanyaku penasaran. Aku jadi lebih tertarik membahas misinya ketika jadi ketua kelas daripada membahas air yang kotor. Apa sih yang diketahui anak kecil tentang kepemimpinan.
"Pertama: harus menertibkan kelas kalau guru sedang keluar. Kedua: harus mengenal orangtua semua teman-teman sekelasku, siapa yang biasa mengantar jemput mereka," katanya.
"Kenapa kamu harus kenal sama orangtua mereka?" tanyaku.
"Iya, jaga-jaga supaya mereka tidak diculik. Diam-diam aku lihatin mereka kalau dijemput, benar enggak yang jemput itu orangtuanya atau mbaknya. Temanku ada yang dijemput mbaknya juga," lanjutnya.
"Ohhhh," kataku membatin.
"Itu doang misinya?" tanyaku lagi.