Aku jadi ingat istriku. Istriku itu memang jangkrik, banyak mintanya dan boros kebutuhannya. Aku yang hanya seorang pegawai bergaji pas-pasan tentu saja sulit mengikutinya. Sialan, tapi kenapa aku selalu menuruti apa yang dimauinya? Apa karena dia cantik? Ah, betul sekali. Istriku cantiknya minta ampun, sehingga bukan hanya aku sebagai suaminya bahkan mungkin semua lelaki manapun akan bertekuk lutut di hadapannya. Yah, setidaknya ada satu hal darinya yang tidak membuatku memaki terus menerus tanpa sepengetahuannya.
Seekor anjing lewat lagi di hadapanku. Aku berhenti. Bukankah ini anjing yang tadi? Pikirku mengingat-ingat. Bukan, yang tadi berwarna coklat, yang ini berwarna hitam dengan sedikit pincang jalannya. Pincang sialan, makiku dengan berbisik. Beberapa meter lagi dari rumah dan aku harus berhenti lagi hanya untuk memandangi seekor anjing bahkan menaksir kesamaannya dengan anjing sebelumnya! Kacau sekali otakmu itu, Darsin! Makiku pada diri sendiri.
Tepat ketika aku membuka pagar rumah ibu, gordin tersibak dan kulihat sebentuk wajah bermukena. Saat itu aku bepikir: ajaib sekali jika aku pulang ke rumah dan menemukan istriku bermukena seperti itu di dini hari begini.
Sesampai di pintu, aku masih mengetuk biarpun aku tahu ibuku telah melihat kedatanganku.
"Mabuk lagi?" tanya ibu itu setelah pintu dibukanya.
Aku diam saja dan menarik tangannya agar mengikutiku untuk masuk ke kamarnya.
"Aku pinjam uang, Bu!" kataku.
Berkerut kening ibuku dalam remang cahaya lampu kamar dan mataku.
"Uang?"
"Iya..sialan memang si Sagrip!"
"Untuk judi, Sin?"