Saya teringat dengan apa yang disampaikan pak Dahlan Iskan ketika mengikuti salah satu Conference di Jakarta 3 tahun lalu, “sekarang nggak laku lagi jual penderitaan ke masyarakat,” ujarnya waktu itu. Dan itu secara nyata terlihat sekarang.
Story
Faktor terakhir adalah cerita. Inilah sumber pembelajaran penting yang membangun dunia ini. Ketika sesuatu itu disampaikan dengan cerita yang menarik, maka kontennya menjadi istimewa, dan orang bersedia membaginya dengan sukarela. Ketika peledakan terjadi, banyak cerita yang muncul, sebagian malah hanyalah bualan belaka. Salah satu yang saya terima adalah prediksi ekonomi yang akan memburuk, negara mengalami inflasi yang tinggi, akan terjadi capital outflow, bahkan tidak sedikit yang asal bicara. Semua orang yang bahkan tidak emngerti ekonomi, bicara ekonomi.
By Degree, saya seorang ekonom. Bagi saya, peristiwa teror hanya akan berpengaruh pada pariwisata, yang tentu ini akan berimbas pada sektor real, tidak ke sektor financial. Di era yang modern seperti saat ini, investor cenderung praktis. Mereka hitung rugi bukan karena terorisme, tapi seberapa besar return yang didapatkan dari imbal balik modalnya. Ketika the FED mengumumkan menaikkan suku bunganya, capital outflow terjadi tanpa ada korelasinya dengan peristiwa terorisme. Dan terbukti, peledakan kemarin hanya menurunkan IHSG 0,5% saja, dan ini penurunan yang sangat normal (dengan atau tanpa adanya peristiwa genting, hal ini wajar terjadi).
Tapi di sosial media, beritanya seolah-olah dolar akan menembus angka Rp. 17 ribu. Orang senang membagikan cerita, bahkan cerita yang tanpa dasarpun, bisa di share. Selama cerita itu dikemas secara menarik (Yang sayangnya di Indonesia, banyak orang yang suka secara mentah-mentah melahap berbagai informasi tanpa di filter terlebih dahulu). Namun poinnya adalah, cerita akan menjadi nilai tambah sebuah produk.
Yang terpenting adalah, ketiga faktor diatas harus ada dalam sebuah produk yang hendak kita pasarkan. Jika kekurangan satu saja, maka efeknya bisa jadi tidak sesuai dengan harapan kita.Inilah alasannya, mengapa di Youtube kita sering melihat, ada video kucing lucu yang ditonton hanya oleh sedikit orang, sementara video sejenis bisa di tonton hingga jutaan kali. Faktor pembedanya, bisa jadi karena salah satu dari faktor diatas tidak terpenuhi, diunggah di waktu yang tidak tepat misalnya.
Penuhi semua faktornya, dan mungkin Anda bisa membuat produk yang hendak dipasarkan memiliki efek viral yang dahsyat. Semoga bermanfaat!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H