Semoga kolektivitas kebangsaan yang tergambar oleh semarak Ramadhan dan dahsyatnya arus mudik lebaran bisa menghasilkan sinergi yang hebat dan bisa mendongkrak daya saing dan produktivitas.Â
Faktor non teknis untuk menggenjot produktivitas bangsa adalah mengartikulasikan tri-ukhuwah kebangsaan yang lahir dari nilai keislaman. Yakni mengembangkan sikap persaudaraan bukan hanya dengan sesama kaum Muslimin yakni ukhuwah Islamiyah, melainkan juga dengan sesama warga bangsa yang lain yakni ukhuwah wathoniyah ) serta dengan warga dunia manapun tanpa diskriminatif yakni ukhuwah basyariyah. Tri-ukhuwah tersebut diharapkan dapat menjadi pegangan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi persaingan global yang semakin sengit.
Spirit Ramadhan harus bisa mentransformasikan mentalitas bangsa dan ranah psikososial, alam kehidupan para buruh dan birokrat di negeri ini setelah Idul Fitri harus lebih mencintai pekerjaan atau tidak boleh mengeluh setiap hari. Banyak pihak yang setuju bahwa pekerja dan birokrat di Indonesia hingga kini sebagian besar belum mencintai pekerjaanya setulus hati alias memiliki integritas yang masih rendah.
Spirit Ramadhan relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang kekurangan jumlah wirausahawan. Bulan Ramadhan telah membuka banyak lapangan berusaha dan mendorong warga untuk mencetak bermacam produk dan jasa. Bulan Puasa menanamkan budaya berwirausaha di kalangan warga bangsa untuk mengejar ketertinggalan dengan negara lain.
Makna terbesar yang bisa diambil hikmahnya selama Ramadhan adalah perlu lompatan hebat dalam menghadapi persoalan ketenagakerjaan. Untuk kedepan bangsa ini harus mampu merumuskan haluan negara serta mampu berperan dalam hal politik anggaran yang betul-betul prorakyat.
Ramadhan kali ini mesti bisa menyadarkan segenap organisasi buruh harus memiliki langkah-langkah besar, cerdas dan inovatif. Buruh bukan identik lagi dengan sosok proletariat yang mengedepankan otot dan dengkul. Saatnya buruh mengasah akal budi dan kecerdasannya, sehingga tercipta nilai tambah (added values) yang tinggi pada diri dan organisasinya.Â
Melihat kondisi APBN dari tahun ketahun, buruh memandang perlu revolusi fiskal agar APBN dan kebijakan fiskal betul-betul bisa menjadi alat yang efektif untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Revolusi fiskal terkait dengan tiga aspek, yakni revolusi penerimaan negara, alokasi dan efisiensi belanja secara ketat, serta manajemen pengelolaan APBN yang anti bocor.
*) Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronika dan Mesin ( FSP LEM SPSI, )Sekjen KSPSI, Anggota Tripartit LKS Nasional
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H