Mohon tunggu...
Ardiansyah
Ardiansyah Mohon Tunggu... Guru - Pendidik

Akademisi ialah yang membumikan literasi.bukan pandai bernarasi basa-basi .

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kurban, Bentuk Kepatuhan pada Tuhan

3 Juni 2024   05:00 Diperbarui: 3 Juni 2024   05:21 191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bang Ardiansyah saat membeli hewan kurban | dok Pribadi

Kepatuhan  bisa pada apa dan siapa saja. Bisa kepada sesama makhluk atau makhluk kepada Tuhan.  sesuatu yang ditaati atau dipatuhi biasanya memiliki kekuatan dan pengaruh yang jauh lebih besar dari yang mematuhi. 

Contoh kepatuhan kepada makhluk seperti rakyat mematuhi rajanya, karyawan kepada bos di tempat kerjanya, murid kepada Gurunya, anak kepada orangtuanya, atau manusia kepada jin berupa penyembelihan hewan lalu dipersembahkan untuk jin atau berhala dan masih banyak derivasi contoh lainnya. 

Adapun Kepatuhan Nabiullah Ibrahim dan Ismail 'alaihimassalam adalah  bagian dari contoh bentuk kepatuhan manusia kepada Tuhannya.  Dimana kepatuhan ini merupakan keniscayaan karena kesempurnaan sifat dan dzat-Nya yang  absolut dan tidak mungkin terreduksi dan habis karena berakhirnya term Tuhan pada-Nya. Kepatuhan pada makhluk bisa saja sirna karena makhluk yang dipatuhi berkhianat, jahat dan tercela karena aib makhluk itu sendiri. 

Sedangkan kepatuhan Nabi Ibrahim dan Ismail pada Tuhan bisa menjadi langgeng karena sifat dan  derajat-Nya yang teramat tinggi. Ini merupakan Kepatuhan seorang Ayah dan Anak kepada Tuhannya. Yaitu kepatuhan yang memiliki klausul positif bagi umat manusia setelahnya. Dimana merupakan kepatuhan yang saat ini mungkin masih ada namun sukar untuk ditemukan. Penulis berharap setiap orang bisa memahami makna kepatuhan hakiki yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam.

A. Makna Kurban di Dalam Al-Qur'an

Bukan tanpa alasan Allah SWT mengabadikan kisah Ibrahim dan Ismail di dalam Al-Qur'an. Penulis melihat di sana ada urgensitas yang harus diketahui oleh seluruh umat manusia. Terlebih petunjuk Al-Qur'an itu tidak hanya ditujukan untuk sekelompok manusia saja, lebih dari itu untuk seluruh manusia. Allah SWT berfirman:

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (Q.S. aS-Shafat :102)

Mari kita telaah sejenak ayat di atas, bahwa tatkala Ismail sedang berjalan bersama Ayahnya yaitu Ibrahim, Ayahnya mengutarakan kepadanya tentang perintah Allah SWT yang ia dapati melalui mimpinya. Dimana Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya yang bernama Ismail. Padahal jika kita pahami secara psikologis tentu perintah Allah SWT ini bukanlah hal mudah untuk dijalankan oleh Ibrahim karena harus mengorbankan orang yang paling ia sayangi dan ditunggu-tunggu kehadirannya.

Kepatuhan bukanlah hal mudah untuk dilakukan jika tidak ada kepercayaan dalam hati. Karena kepercayaan terhadap sesuatu akan melahirkan kepatuhan pada sesuatu tersebut. Seseorang akan berbuat apa saja yang diminta jika ia sudah memiliki kepercayaan pada sesuatu yang ia percayai. kepercayaan inilah yang dalam terminologi agama disebut iman. 

Dengan iman inilah Ibrahim dan Ismail akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Allah SWT. Suka atau tidak suka, enak atau tidak enak, semua akan dipatuhi dengan kerelaan dan kesadaran. Bahkan karena iman semua realisasi kepatuhan akan selalu terasa biasa. Tentunya dengan keyakinan keduanya bahwasanya apa yang Allah SWT perintahkan adalah kebaikan.

Kurban adalah persembahan yang seyogyanya diperuntukan untuk Allah SWT sebagai bentuk kepatuhan setiap hamba. Sebagaimana Ibrahim dan Ismail telah melakukan ini dan menjadi contoh untuk kita semua. Kurban adalah ibadah yang sangat penting bagi seorang muslim. Sampai Allah SWT katakan dalam Al-Qur'an "Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)". 

Perintah kurban Allah posisikan setelah shalat, artinya merupakan perkara yang sangat penting. Dan tentunya kurban karena dasar kepatuhan pada Allah SWT akan membias pada pengorbanan lainnya. pengorbanan untuk terus peduli pada manusia-manusia yang fakir  (fuqara), orang-orang miskin (Masakin), anak-anak yatim (yatama), orang-orang lemah (mustadh'afin) dan lainnya.

B. Psikis Nabi Ibrahim Saat Menyembelih Ismail

Setiap orangtua dianugerahkan perasaaan  sayang dan cinta kepada anaknya. Dengan rasa inilah apapun yang diminta oleh anak kerap dipatuhi oleh orangtuanya, bagaimanapun caranya terkadang akan ditempuh oleh orangtua. 

Begitu pula Ibrahim kepada anaknya Ismail pasti memiliki perasaan yang sama dengan orangtua lainnya. Apalagi masa penantian panjang Beliau untuk memiliki anak menjadi bukti betapa berharapnya Ibrahim untuk memiliki keturunan. Maka bagi manusia biasa cukup sulit membayangkan bagaimana perasaan Ibrahim ketika anaknya Ismail harus disembelih. Namun karena kita sesama manusia, kita bisa merasakan perasaan Beliau saat itu dan betapa tinggi kadar kepatuhan Beliau kepada Tuhannya yaitu Allah SWT.

C. Psikis Nabi Ismail Saat Hendak disembelih Nabi Ibrahim

Di masa modern sekarang ini, zaman serba digital di mana perilaku seorang anak sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka tonton melalui media sosial, semakin berat tantangan orangtua dalam membentuk anak menjadi shalih. Walau dalam perspektif teologis shalih atau tidaknya anak sesuai kehendak Allah SWT. Karena Nabi Nuh sebagai Nabi pun tidak bisa membawa dan memaksa Istri dan anaknya Kan'an untuk taat kepada Allah SWT. 

Artinya baik atau tidaknya perilaku seorang anak secara garis besar merupakan hak prerogatif Tuhan Allah SWT. Berlepas dari semua itu, betapa luar biasanya respon Ismail saat Ayahnya Ibrahim mengutarakan perintah Allah SWT untuk menyembelihnya, yaitu beliau langsung menyambut dan mengatakan "yaa abati if'al maa tu'mar  satajidunii insyaAllahu minasshoobirin (Wahai Ayahku lakukanlah jika engkau diperintahkan demikian)". Ini adalah kepatuhan seorang anak kepada Tuhannya dan baktinya terhadap Ayahnya.

D.  Keunikan Kurban Nabi Ibrahim dan Ismail dengan lainnya

1.  Menyembelih manusia bukan hewan

Apa yang kita sembelih ketika hari raya kurban ('idul  adha) adalah hewan berupa kambing, sapi, kerbau dan unta. Itulah hewan yang sudah ditentukan oleh syariat Islam. Tidak boleh berkurban dengan selain hewan tersebut. Semisal dengan Ayam, Ikan atau berupa makanan pokok seperti beras. Berbeda dengan Ibrahim 'alaihissalam  Allah SWT perintahkan beliau berkurban dengan keharusan menyembelih seorang manusia yaitu anak kandungnnya sendiri yaitu Ismail 'alaihissalam. 

Ayah yang sangat menyayangi anaknya harus merelakannya untuk sebuah kepatuhan kepada Allah SWT. Meskipun pada akhirnya Allah SWT menunjukan kuasanya dengan mengganti Ismail dengan seekor kibas (domba). Artinya Nabi Ismail tetaplah hidup dan Ibrahim pun berhasil menunaikan perintah Allah SWT. 

Terkadang dalam hidup kita sudah mengetahui janji-janji Allah dalam Al-Qur'an, hadits qudsi atau hadits nabawi, janji akan surga, pahala, dan ganjaran-ganjaran lainnya dari sebuah amal, tapi keyakinan kita saat menunaikan sebuah perintah-Nya jauh dari predikat sempurna. Sehingga keyakinan yang kita implementasikan hanya sebatas menggugurkan kewajiban atau karena keterpaksaan, bukan karena sebuah kepatuhan.

2.  Menjadi Contoh Yang Relevan

Sampai di sini yang perlu kita pahami bahwa syariat kurban memiliki syarat makna dan faedah. Yaitu manusia tidak membeli hewan kurban, kemudian diserahkan kepada panitia kurban kemudian disembelih dan dibagikan kepada masyarakat luas. 

Tidak sesempit itu. Tapi, bagaimana manusia itu bisa menata jiwanya, merawat keimananya, sehingga jika sudah baik jiwanya dengan keimanan yang mantap, maka terpola kepatuhan di dalam jiwa tersebut yang kemudian terwujud dalam perilakunya sehari-hari. 

Jadi harta yang ia belanjakan untuk membeli hewan kurban diiringi dengan keikhlasan, daging kurban yang dibagikan kepada yang membutuhkan diberikan dengan keikhlasan dan hanya mengharap predikat takwa. Sehingga apa yang dikurbankan adalah sebuah bentuk kepatuhan pada Tuhan. Bukan atas dasar pujian manusia (riya' ), ingin diceritakan oleh orang banyak (sum'ah) dan merasa diri paling dermawan ('ujub). Dan kedua Nabi ini telah memberikan contoh yang amat relevan untuk kita tentang cara menjewantahkan makna sebuah keimanan dengan realisasi kepatuhan yang hakiki.

E. Psikis Habil  dan Kabil saat berkurban

Berbeda dengan Ibrahim dan Ismail yang bersinergi dalam kepatuhan. Kedua anak Adam Qabil dan Habil justru tidak sejalan dalam menunaikan perintah Allah SWT. Qabil yang memiliki ladang pertanian berkurban dengan kualitas sayurannya yang buruk-buruk dan Habil yang memiliki 

Peternakan, berkurban dengan hewan ternaknya yang bagus, sehat dan layak. Perasaan Qabil yang hasad (dengki) terhadap Habil membuat kurban yang Qabil persembahkan adalah barang dengan kualitas rendah. Adapun perasaan Habil yang tidak bercampur dengan iri dan dengki dengan rela mengorbankan yang terbaik dari apa yang ia miliki.

Penting kita pahami, bahwa dalam berkurban yang Allah SWT  nilai pertama kali adalah niat. Apakah niat seseorang itu karena dunia atau karena Tuhannya. Psikis Qabil saat berkurban lebih kuat dimotivasi oleh dorongan duniawi. Yaitu keengganan menikah dengan Labuda dan lebih memilih Iqlima saudara sekandungnya. 

Padahal Allah SWT memerintahkan agar Adam menikahkan silang anaknya Qabil dengan Labuda dan Habil dengan Iqlima. Namun karena Qabil tidak mau patuh kepada perintah Allah SWT, maka Allah SWT memerintahkan agar keduanya Qabil dan Habil mempersembahkan  kurban terbaiknya kepada Allah SWT. Siapa yang kurbannya diterima oleh Allah SWT, maka ia berhak menikahi Iqlima, yang tentu secara paras jauh lebih cantik dari Labuda. Dan karena alasan Kurban yang dipersembahkan Habil jauh lebih baik dari kurban Qabil, maka Allah SWT memilih persembahan kurban Habil.

1. Pandangan Habil Kepada Saudara Kandungnya Qabil

Penulis melihat ada korelasi yang kuat antara kisah pengorbanan Habil dengan Ibrahim dan Ismail. Keduanya sama-sama memberikan kurban terbaik untuk Allah SWT. Kepatuhan pada-Nya tidak bisa dielakkan lagi. Memberikan apa yang mereka paling cintai dan miliki untuk Allah SWT. Tentunya atas kurban yang mereka lakukan dengan berdasar kepatuhan kepada Tuhannya, maka mereka mendapatkan ganjaran terbaik dari Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman; "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya" (QS.Ali-Imran [03]: 92)

Jika kita membuka tafsir klasik, para ulama tafsir berbeda pendapat tentang maknanya. Namun kebanyakan ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-birr adalah surga. Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Jami Al-Bayan fi Ta'wil Al-Quran mengutipkan beberapa nama ulama seperti Qatadah dan Al-Hasan.

Ayat yang penulis kutip di atas menegaskan kepada kita bahwa kita tidak akan bisa mendapatkan surga atau balasan amal kita, hingga kita mengeluarkan harta yang kita cintai. Habil telah mampu menunjukan kepada kita bagaimana merealisasikan wujud kepatuhan pada Tuhan-nya, dengan memberikan harta yang paling baik, berkompetisi dalam kebaikan secara objektif dengan saudaranya sendiri, dan selalu bersyukur atas setiap nikmat yang Allah SWT berikan.

Manusia yang patuh pada Tuhannya tidak akan merancang siasat buruk kepada saudaranya sendiri karena kedengkiannya. Melainkan akan selalu taat dan patuh pada Allah SWT, dengan mengetahui dan memahami esensi dari setiap perintah Allah SWT di dalam Al-Qur'an yang mulia.

2. Pandangan Qabil Kepada Saudara kandungnya Habil.

Fakta sejarah mencatat bahwa pertumpahan darah yang pertama kali terjadi di muka bumi ini dilakukan oleh Qabil terhadap Habil. Karena ia tidak patuh terhadap perintah Allah SWT, atas dasar rasa iri dan dengkinya maka ia membunuh Habil yang merupakan adiknya sendiri. Di sini dapat kita pahami bahwa ketidakpatuhan terhadap perintah Allah SWT akan melahirkan perilaku buruk sebagaimana yang telah dilakukan Qabil.

Pembaca yang Budiman, jadi sepantasnya kurban menjadi wujud kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Janganlah berkurban untuk selain Allah SWT. Berkurbanlah dengan yang terbaik dan lakukanlah karena dasar kepatuhan kepada Allah SWT. . Memang tidak dipungkiri banyak manusia yang ketika memberikan hewan kurban terkadang ada motivasi lain. 

Misalnya Karena nominal harga seperti sapi, kambing dan kerbau bagi sebagian orang merupakan harga yang mahal, sehingga ketika mampu berkurban dianggap sebagai orang yang kaya atau mampu secara finansial, kemudian timbullah rasa riya'  karena kemampuan memberikan hewan kurban dianggap mampu dan berkecukupan secara materi. 

Atau memberikan kurban yang jelek-jelek seperti yang dilakukan Qabil, atau seperti kaum sinkritisme agama yang mempersembahkan hewan sembelihannya untuk berhala, hewan yang telah mereka sembelih dikubur kepalanya  di tempat khusus dengan tujuan mengharap keberkahan. 

Tentu amalan kurban semacam itu sangat kontradiksi dengan teknis dan motivasi kurban Habil, Ibrahim dan Ismail 'alaihimassalam  yang tuntunannya sesuai petunjuk Allah SWT. Jadi berkurbanlah karena kepatuhan kepada-Nya, bukan karena selain-Nya.

Referensi :

Buku kisah 25 Nabi dan Rasul

Kitab Tafsir At-Thobari

Mushaf Al-Qur'an terbitan Kemenag

Tafsir al-Muyassar

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun