Anak adalah amanah. Ketika kita diberi kepercayaan untuk memiliki anak, berarti tanggung jawab terhadap tumbuh kembang dan masa depan anak sepenuhnya ada di pundak kita.Â
Dalam merawat, mendidik, dan melindungi anak, tergantung dari niat dan cara kita. Apakah anak hanya dijadikan barang bukti bahwa kita mampu mengandung atau anak akan dijadikan aset masa depan bahkan hingga kita mati anaklah yang akan menolong kita melalui doa-doa mereka?Â
Jika anak hanya akan dijadikan barang bukti bahwa kita bisa mengandung dan melahirkan, setelah itu pasti habis perkara. Tidak akan ada rasa tanggung jawab lagi kelak anak itu akan dididik menjadi apa dan bagaimana mengarahkannya. Justru yang ada hanya beban berat dan rasa terganggu ketika anak itu sudah hadir menjadi tanggungan kita.
Pembaca pasti heran dengan tulisan di paragraf atas, apa ada orang tua yang berpikiran begitu? Banyak, hanya ingin menghamili atau hamil sebagai bukti dia mampu. Lalu anak dibuang, dititipkan di panti asuhan, atau kalau diasuh sendiri pasti akan kasar memperlakukannya.Â
Kalau niat kita punya anak untuk dijadikan aset masa depan, sadar bahwa doa anak yang kelak akan menolong di alam kubur, maka kita akan mempersiapkan segalanya jauh lebih baik, akhlaknya, ilmunya, pendidikannya, kesehatannya, hingga masa depannya.
Lalu apa kaitannya niat punya anak dan pelecehan seksual pada anak? Lagi-lagi jawabannya "banyak".Â
Jika kita peduli pada masa depan anak, sesibuk apapun kita akan memberikan yang terbaik serta perhatian yang cukup. Sehingga tidak ada kesempatan bagi anak jatuh ke tangan orang lain yang tidak bertanggung jawab.Â
Jangan karena alasan bekerja, berdalih agar bisa memberikan yang terbaik bagi anak, tetapi justru membuat anak jatuh ke tangan orang lain yang tidak bertanggung jawab. Bukan hanya pelecehan saja, perawatan sehari-hari juga perlu diperhatikan.Â
Pelecehan pada anak bisa saja terjadi karena si anak mendapat iming-iming sesuatu yang tidak dia dapatkan di rumah. Entah itu kenyamanan dalam bentuk materi atau kesempatan bermain bersama yang lebih mengasyikkan dengan orang di sekitar. Bisa juga saat ia sendiri.
Pernah baca sopir atau abang becak yang mengantar jemput sekolah melecehkan anak majikannya? Saking percayanya majikan pada mereka, hingga tidak memikirkan akibatnya pada anak. Pernah baca juga paman yang tega berbuat tidak senonoh pada keponakan? Nah!
Atau kasus lain, tetangga yang meminjamkan mainan pada anak lalu memaksa melayani nafsunya. Itu bisa terjadi karena di rumah si anak tidak mendapat kesempatan atau diizinkan bermain seperti keinginannya, hingga ia mencari di luar.Â
Dalam hal ini, perhatian orangtua yang sangat kurang. Kalau orangtua perhatian pasti akan menanyakan ke mana anak bermain dan dengan siapa. Itu perlu untuk mengetahui perkembangan anak terhadap lingkungan.
Juga kurangnya komunikasi mengenai bahaya bermain sendiri di luar serta pemahaman tentang tubuh, bisa juga mengakibatkan anak tidak bisa peka dan menjaga dirinya sendiri. Bagian mana yang boleh disentuh orang lain dan bagian mana yang harus dilindungi, si anak harus tahu itu.
Lebih gampangnya begini, jika dari kecil anak dibiasakan memakai baju yang sopan, ia akan terbiasa sampai besar nanti dan malu bila mengenakan baju yang tidak biasa digunakan, misalnya rok mini atau baju tanpa lengan.Â
Contoh lain, jika kita membiasakan anak untuk tidak melepas baju di sembarang tempat, ia akan terbiasa juga melepas baju di tempat tertutup. Biasanya saat berada di sekitar kolam renang, berangkat sudah menggunakan baju renang lalu didobel dengan baju biasa, pasti saat ganti ada sedikit malu membukanya hingga mencari tempat tertutup.Â
Pengetahuan begini yang harus diajarkan orangtua pada anak. Rasa malu, tidak mudah percaya pada orang lain apa lagi yang belum dikenal hingga sentuhan yang tidak layak dilakukan terhadap tubuh kita.Â
Keberanian juga harus ditanamkan pada anak, jika ada orang yang berani menyentuh bagian tertentu maka ia harus teriak atau memberitahukan kepada orang yang ada di sekitar.Â
Beberapa kasus pelecehan terjadi karena si anak mendapat suatu bantuan atau kemudahan, lalu diancam untuk tidak teriak atau memberitahukan kepada orang lain. Hal ini akibat si anak kurang mengerti dan berani. Dia belum mendapat gambaran bagaimana menjaga dirinya sendiri.
Di sinilah tugas orangtua memberi pelajaran perlunya menjaga diri sesuai dengan usia anak. Pendidikan seks mungkin memang belum saatnya diberikan, tetapi jika anak mengetahui bahwa bagian tubuh tertentu harus dijaga karena memang sangat penting, pasti ia akan paham. Bahasanya saja yang harus diubah, orang tua harus kreatif menyampaikan kepada anak.Â
Dari semua kasus pelecehan terhadap anak, pasti si anak kan yang dirugikan? Akan membekas selamanya di otak. Pelaku mungkin bisa ditangkap dan dipenjarakan, tetapi jiwa anak yang tergores.Â
Untuk itu, pelecehan seksual terhadap anak bisa dicegah sebelumnya jika antara orangtua dan anak saling berkomunikasi. Tugas orangtua memberi perhatian dan pengertian kepada anak juga melindunginya.Â
Tugas anak memberitahukan dengan siapa saja dia bermain dan bergaul. Pasti akan tercipta keadaan yang aman dan terkendali.Â
Semoga bermanfaat.Â
Salam,
Sidoarjo, 25 Juli 2020
Any SukamtoÂ
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H