Mohon tunggu...
Antik Widaya Gita Asmara
Antik Widaya Gita Asmara Mohon Tunggu... Mahasiswa - .

Mahasiswa semester 1 Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Paradigma Qur'ani dalam Perkembangan Iptek

29 November 2021   21:43 Diperbarui: 29 November 2021   21:54 685
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Apabila kita menempatkan akidah Islam menjadi sebuah landasan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan berarti harus didasarkan pada ayat atau Hadits tertentu yang spesifik. 

Jika pun ada ayat yang memiliki korelasi dengan fakta – fakta ilmu pengetahuan. Itu merupakan tanda dan suatu bukti dari keluasan ilmu milik Allah SWT yang mencakup segala macam hal didunia ini. Konsep ilmu pengetahuan tidak harus bersumber pada ayat atau Hadits spesifik tertentu, semisal didalam ilmu astronomi terdapat ayat yang memaparkan tentang matahari sebagai pancaran cahaya yang panas, tertera pada surat Nuh: 16, dan ada sekitar 750 ayat yang sejenis dalam Al – Qur’an. Dimana membuktikan tentang keluasan ilmu Allah yang mencakup segala hal dan juga menjadi barometer kesimpulan dari iptek, bukan berati konsep dari ilmu pengetahuan ini harus didasarkan pada ayat – ayat tertentu.

Jadi kesimpulannya, menjadikan akidah Islam sebagai dasar iptek bukanlah seperti sumber konsep dari ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah dari Al – Qur’an dan Hadits. Melainkan iptek harus dan wajib bertumpu pada Al -Qur’an dan Hadits. Al – Qur’an dan Hadits adalah miqyas dari iptek, bukan sebagai mashdar dari iptek. 

Dalam arti lain, konsep dari iptek yang tengah dikembangkan, apapun itu harus bertumpu dan sejalan pada Al -Qur’an dan Hadits. Jika suatu konsep ilmu pengetahuan dan teknologi tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka konsep tersebut haruslah ditolak. 

Aku ambil contoh Teori dari Darwin yang populer dimana ia berpendapat kalau manusia adalah makhluk evolusi yang berasal dari suatu organisme sederhana di bumi yang telah berevolusi selama jutaan tahun hingga akhirnya menjadi manusia. kalau dari teori itu, berarti kita ini ( manusia) asalnya dari organisme sederhana dan bukan dari keturunan Nabi Adam seperti yang ada di Al-Qur'an surah Al-Hujurat:13.

Gambaran lain dari pemahaman prinsip ini adalah bahwasannya kedudukan Al-Qur’an dan Hadits bukan sebagai sumber iptek, melainkan standar dari iptek. Muslim diperbolehkan mengambil iptek yang bersumber dari non muslim. Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. 

Nabi pernah memerintah dua sahabatnya untuk mempelajari Teknik persenjataan orang Yaman, dimana saat itu orang – orang Yaman adalah non muslim ( Kristen). Nabi juga menerapkan strategi penggalian parit mengelilingi kota Madinah, dimana strategi tersebut berasal dari orang Persia yang non mulism ( Majusi). 

Sahabat Nabi, Umar bin Khattab mengadopsi sistem dari bangsa Romawi dalam admisistrasi dan pendataan Baitul Mal saat itu, dimana bangsa Romawi juga non muslim (Kristen). Jadi, iptek bisa diambil selama tidak bertentangan dengan Akidah dalam Al-Qur’an dan Hadits .

Terus, yang jadi penentu boleh atau tidaknya suatu hasil iptek itu apa? nah mari kita bahas tentang peran syariah Islam di dalam perkembangan iptek untuk tau jawabannya.

Dalam pemanfaatannya iptek harus berstandar pada Syariah Islam. Syariah Islam juga harus digunakan sebagai barometer penentu halal dan haram yang berasal dari hukum- hukum Syariah, apapun bentuknya. 

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang boleh dibolehkan adalah yang sudah dihalalkan Syariah Islam, dan yang diharamkan oleh Syariah Islam tidak boleh boleh dipergunakan. Keharusan dari tolak ukur Syariah Islam ini dilandasi oleh banyaknya ayat dalam Al-Qur’an serta Hadits yang mengharuskan umat muslim untuk menyesuaikan perbuatan termasuk juga dalam penggunaan iptek harus disertai dan didasari dengan Syariah Islam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun