Terasa badai semakin mendekat
Ternyata tidak! semakin memporadakkan semua yang melekat
Ku kira, aku memahami isyarat angin yang menerbangkan awan
Ternyata hanyalah ilusi yang kucipta dalam kesendirian
Dengan sengaja membuka kembali portal dimensi
Berisi album perih yang terpaku dalam peti
Pecahan-pecahan kesetiaan yang terbengkalai
Ada pula secarik kain yang telah sobek oleh inkar janji
Ku kira, kau kan membantuku menjadi baru
Ternyata kau hempaskan menjadi kembali ke debu
Ku kira, kau kan memberi nuansa kalbu
Namun yang kuterima adalah semua palsu
Badut ini sedang tidak baik-baik saja
Berpura-pura Bahagia di dalam duka
Tertawa karena terluka berulang kali
Tidak ada yang patut disalahkan,
Dunia orang dewasa suka bercanda.
Bercandakan realita serasa mempermainkan boneka
Ketika dapat yang baik, alasan dia terlalu baik
Ketika dapat yang brengsek, alasan semua lelaki sama
Bangsat...
Begitulah proklamasi patah hati mereka.
Maaf, tentu ini bukanlah tentang kamu.
Kau tetaplah berbahagia dengan kisahmu
Terkait perasaanku, tidak perlu kau pikirkan
Aku akan kembali seperti dulu
Menjadi salah satu dari lelaki baik itu
Menyedihkan...
Kan kulakukan itu setiap hari
Hingga terbiasa lagi dengan patah hati
Bila perlu kan ku bunuh, lalu dikubur dalam tanah
Kan ku beri nama pada batu nisan
Telah wafat
*entah kapan
+20 Mei 2023
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI