Bagi kebanyakan orang definisi rumah itu hanya sekedar bangunan yang bisa dijadikan tempat tinggal tapi tidak bagi saya definisi rumah lebih dari itu, rumah bagi saya adalah tempat tumbuh kembang, tempat berlindung, sebagai tempat teraman dan juga sebagai tujuan akhir ketika saya merasa sedih, kecewa, senang dan bahagia. Rumah akan selalu jadi tempat pulang mau sejauh manapun kaki saya melangkah nantinya saya akan kembali lagi ke "rumah".
Dalam kamus bahasa besar bahasa Indonesia di sebutkan Keluarga yaitu terdiri dari ibu bapak dengan anak-anaknya,satuan kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat.keluarga merupakan sebuah institusi terkecil di dalam masyarakat yang berfungsi sebagai wahana untuk mewujud kan kehiduapn yang tentram,aman, damai dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih sayang diantara anggotanya.
Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan pengembangan anak sekaligus keluarga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak dimana oranng tuanya menjadi peran sebagai guru pertama dari anaknya. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak, tentu akan terhambatlah pertumbuhan anak tersebut. Peranan orang tua dalam keluarga amat penting, terutama ibu. Dialah yang mengatur, membuat rumah tangganya menjadi surga bagi anggota keluarga,menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi dengan suaminya (Daradjat, 1995: 47).
 Tapi bagi kebanyakan orang rumah (keluarga) adalah tempat yang harus ia hindari bahkan tak ingin ia kunjungi lagi karena didalam rumahnya terlalu berisik dan tidak bisa menjadi tempat pulangnya lagi, entah karena permasalahan orang tua yang egois sehingga anaknya yang menjadi korban atau permasalahan lainnya yang menyebabkan rumah itu sudah tidak nyaman lagi.
Tapi menurut KPAI banyak anak yang terlantar akibat konflik dari orang tua sehingga terjadinya pengabaian hak-hak anak yang dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya dan juga dapat membuat anak menjadi pribadi yang mudah pemarah, agresif, dan tidak peka akan dunia yang ada di sekitarnya sehingga anak tersebut akan di cap anak yang nakal dan bandel tanpa memperhatikan faktor apa penyebab hal tersebut terjadi pada diri sang anak.
Bagi Gen Z kejadian tersebut dinamai dengan istilah "broken home" dimana memiliki arti suatu keluarga yang tidak harmonis lagi sehingga harus mengalami perpecahan di dalamnnya. Perilaku anak yang tidak sesuai dengan norma karena kurang adanya perhatian, kasih sayang atau salah satu dari orang tua yang tidak ikut serta dalam proses tumbuh kembang dari pendidikan anaknya, sehingga anak tersebut akan merasa kehilangan salah satu figure teladan yang seharusnya menjadi panutan dalam perilaku moral anak sesudah perceraian, menuntut peran ganda dari orang tua untuk memperhatikan pendidikan moral anak,sehingga anak dalam bersikap tidak merasa kehilangan sosok panutan teladan dalam hidupnya. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya kasus broken home tersebut, yaitu:
1. Perceraian orangtua
Perceraian kerap menjadi faktor utama yang membuat kondisi rumah tangga dikategorikan broken home. Perpisahan antara sepasang suami dan istri meninggalkan memori yang buruk dan mendalam bagi anak-anak. Mereka bingung harus memilih untuk tinggal bersama ayah atau ibu mereka, belum lagi stigma ataupun sudut pandang negatif yang ada di masyarakat begitu lekat pada keluarga yang mengalami perceraian.
2. Ketidak dewasaan orangtua
Orangtua yang memiliki egoisme dan egosentrisme kerap bertikai satu sama lain. Egoisme adalah suatu sifat buruk pada diri manusia yang selalu mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan egosentrisme adalah sikap yang menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Sifat seperti itu bisa jadi dikarenakan adanya luka batin yang dialami orangtua saat kecil dan belum terselesaikan hingga dewasa
3. Tidak adanya tanggung jawab dalam diri orang tua
Kesibukan orangtua akan karir, hubungan sosial, atau hobi bisa mengikis rasa tanggung jawab pada keluarganya. Seorang ayah yang terlalu sibuk bekerja, lalu sepulang dari kantor ia larut dalam hobinya bermain games. Begitu juga sang ibu yang terlalu asik dengan kesibukannya bersosialisasi dengan teman-temannya.
Selain dari itu akibat dari broken home ternyata sangat merugikan bahkan bukan hanya bagi orangtua saja tapi bagi anak-anak mereka, anak-anak yang menjadi dampak dari broken home akan cenderung mengalami kesehatan mental yang diawali dengan mengembangkan perasaan sinis terhadap orang disekelilingnya, mempunyai masalah kepercayaan terhadap orang lain, dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan mental lainnya. Pengalaman broken home bisa membuat anak hidup di bawah trauma emosional.sehingga anak menjadi anti-sosial, agresif dan bahkan rentan melakukan kekerasan.
Berdasarkan data statistik tahun 2015, angka perceraian terdapat sekitar 350 ribu pasangan keluarga yang bercerai. Namun pada tahun 2021, perceraian di Indonesia meningkat menjadi sebanyak 580 ribu. "Sehingga ada 580 ribu (keluarga) broken home. Mungkin juga ada anak-anak dari keluarga yang akhirnya kurang mendapatkan perhatian karena orang tuanya harus berpisah," kata Hasto.
Maka dari itu sangat pentingnya pendidikan dalam keluarga sedini mungkin karena akan sangat berdampak positif bagi keluarga yang akan di bangun nantinya, karena selain menjadi pendidikan pertama bagi anak, pendidikan keluarga merupakan pondasi dalam keharmonisan keluarga tersebut karena di dalamnya terdapat bimbingan dan pembelajaran yang diberikan guna mewujudkan keluarga yang terpenuhi kebutuhan spiritual dengan menanamkan nilai-nilai agama, sosial, budaya, cinta dan kasih sayang terhadap lingkungan yang ada di sekelilingnya.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengusulkan pada pemerintah untuk membuat regulasi terkait pemenuhan hak anak pada orang tua yang berkonflik. Anggota Komisioner Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra mengingatkan, banyak anak yang terlantar karena orang tuanya berkonflik atau sedang dalam proses perceraian.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI