Dokter Denio menjelaskan mengapa perlu ada pemeriksaan oleh dokter jantung sebelum operasi. Dengan kosakata yang terbatas, saya berusaha menerjemahkan kepada ibu dalam dialek hokkien.
Keesokan harinya, operasi sukses. Tiga serangkai dokter Riki, dokter Boni, dan dokter Denio merawat ibu dan pelan-pelan mengubah paradigma beliau tentang dokter. Saya dapat melihat bagaimana ibu menerima dan menyayangi mereka.
Tuhan Mengirim Dua “Malaikat” Penyelamat pada Saat yang Tepat
Tanggal 16 Juli 2019 takkan saya lupakan. Sore itu, suami saya masuk rawat inap untuk rencana endoskopi keesokan harinya, karena hematokezia.
Dokter Denio diminta dokter Riki untuk mengevaluasi kondisi jantung suami saya sebelum tindakan endoskopi. Dari pemeriksaan ekokardiografi, dokter Denio meminta endoskopi ditunda. Dibutuhkan rawat inap untuk “membetulkan” jantung terlebih dahulu.
Saya tidak dapat melukiskan halai-balai (kekacauan) perasaan saya ketika melihat dia menulis pada rekam medis suami saya: decompensatio cordis, EF 20%. Malam itu, saya bersyukur kepada Tuhan. Dokter Denio hadir untuk menolong suami saya, tepat pada waktunya.
Saya ajak dokter Riki dan dokter Denio menyatukan doa. Kami percaya kuasa doa. Kami percaya Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib.
Awalnya, suami saya hanya mengeluh kembung dan batuk. Butuh beberapa minggu untuk membujuknya berobat ke dokter Riki. Ternyata, ada gangguan jantung dan ginjal kronis. Dibutuhkan hampir 8 bulan untuk mempersiapkan ginjal suami saya agar dapat dilakukan kateterisasi dan pemasangan ring pada pembuluh darah jantungnya.
Kateterisasi dan pemasangan ring dilakukan pada Jumat Pertama Maret 2020. Saat dokter Denio dan suami saya berjuang di ruang operasi, saya mempersembahkan seluruh usaha sang dokter beserta jiwa dan raga suami saya kepada Hati Yesus yang Maha Kudus, dalam doa tak kunjung putus.
Dokter Milenial “Pengantar” Saya ke Kompasiana
Di antara kisah haru di atas, terselip cerita lucu. Adalah dokter Indra, spesialis metabolik endokrin yang dirujuk dokter Denio untuk mengobati penyakit diabetes suami saya.
Suatu ketika, dokter milenial ini mempersilakan saya follow instagramnya. Jadi, dalam usia sebelas lustrum, saya membuat akun instagram, hanya untuk follow seorang dokter milenial.
Awalnya, saya isi akun saya dengan pindaian cerpen-cerpen lawas. Beberapa orang menyarankan kepada saya untuk membuat blog dan kembali menulis (hobi lama, salah satu sumber penghasilan untuk membayar uang kuliah, yang sudah tiga puluh tahun saya tinggalkan). Satu di antara mereka adalah Rosmani Huang yang mengajak saya menulis di Kompasiana.