Alfonsa Horeng, pegiat sekaligus penenun asal Flores yang turut mendampingi para delegasi untuk bertemu para penenun itu pun optimis kesejahteraan para penenun yang mayoritas para perempuan ini akan meningkat di kemudian hari karena adanya presidensi G20 yang dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara.
Apalagi dalam strateginya, penenun diberi kesempatan untuk berinteraksi dan melihat langsung betapa hasil karya kain tradisional yang mereka produksi mampu memukau mata dunia.
Selain dukungan berupa penyelenggaraan event seperti pameran atau festival, perlu adanya reformasi regulasi untuk memperkuat prinsip ekonomi inklusif di era transformasi digital kini. Bank Indonesia mengembangkan potensi digitalisasi dengan pembuatan blueprint sistem pembayaran Indonesia 2025.
Ini menjadi penting, sebagai upaya reformasi regulasi untuk praktik ekonomi yang aman, efisien dan adil. Mendorong pelaku usaha UMKM atau bahkan perseorangan yakin atas adanya transaksi tak terbatas wilayah dan waktu. Serta memberi kesempatan keterlampilan digital bagi para pelaku usaha dan pengrajin untuk lebih siap menghadapi ekonomi digital.
Adanya presidensi G20 tidak hanya berupa logo yang semakin massif kita lihat logonya di ruang publik sampai bungkus salah satu merk kopi.
Presidensi G20 bukan hanya acara yang dihadiri delegasi “orang-orang” penting di seluruh dunia. Ini merupakan momentum yang baik untuk berbagai pihak dalam menguatkan kolaborasi dan meningkatkan inovasi ekonomi. Tak hanya untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi, namun terciptanya ekonomi inklusif yang berasaskan keadilan dan keamanan secara berkelanjutan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI