Ki Suki, no 64
Setiap malam ada seekor kucing yang selalu mondar-mandir keliling kampung. Namanya Punar. Dia seekor kucing kampung yang berbadan besar dan bulunya sangat lebat dibandingkan kucing kampung lainnya. Tidak ada yang tahu-asal-usulnya.
Selain berbadan besar, Punar juga punya keberanian yang luar biasa. Dia pernah menggertak seekor anjing yang mengganggu kucing-kucing kecil yang sedang bermain. Bahkan kabarnya Punar juga pernah berkelahi dengan musang yang suka mengganggu kampung.
Keberadaan Punar, membuat kucing-kucing menjadi lebih aman. Punar yang selalu keliling kampung membuat tidak ada yang berani mengganggu kucing-kucing yang sedang istirahat atau mencari sisa makanan. Tetua para kucing membiarkan Punar melakukan apa yang disukainya itu, bahkan sekali-sekali membagi makanan dengan Punar.
Namun tidak demikian dengan para kucing dan hewan pengganggu yang lain seperti tikus, tupai, dan musang. Mereka menjadi tidak nyaman. Biasanya mereka leluasa merebut makanan dan mengganggu kucing-kucing yang sedang bermain. Kini mereka takut, apalagi Punar seolah-olah ada di mana-mana.
Suatu malam, para kucing tidak melihat Punar yang biasanya mondar-mandir. Hampir tengah malam, Punar juga tidak kelihatan. Para kucing bertanya-tanya dimanakah Punar. Sayang, tidak ada satupun yang tahu dimana Punar berada. Saram, si kucing yang suka mengganggu merasa sangat senang melihat ketidakhadiran Punar. Saram mulai mengganggu para kucing dengan merebut makanannya.Â
"Ini bulan purnama. Punar tidak akan datang. Dia menjadi hantu saat bulan purnama." Begitu kata Saram kepada para kucing di kampung.Â
Mau tidak mau, kalimat Saram termakan juga oleh para kucing. Mereka saling berbisik dan ketakutan. Mereka yang biasanya merasa tenang saat ada Punar, kini malah merasa takut pada Punar. Hebohlah kampung para kucing. Para tetua kucing juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka juga antara percaya dan tidak.
Hampir pagi, Punar kelihatan kembali. Wajahnya agak pucat. Namun dia tetap saja mondar-mandir keliling kampung. Seperti biasa, setiap dia ketemu kucing lainnya Punar tersenyum. Namun kali ini, para kucing justru ketakutan melihatnya.
Beberapa hari berlalu. Punar tetap keliling kampung. Punar tetap saja tersenyum saat bertemu dengan para kucing. Namun suasana kampung sudah berubah. Para kucing merasa gelisah dan takut dengan kehadiran Punar. Mereka takut kampung ini akan kena bencana.Â
Beberapa kucing yang tergolong pemberani mengusulkan pada para tetua kucing untuk mengusir Punar. Mereka siap berhadap-hadapan dengan Punar bila diperlukan. Para tetua kucing tidak mudah mengambil keputusan. Akhirnya para tetua kucing memanggil Punar.
Punar datang. Wajahnya datar saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Â
"Punar, kemana saja kamu saat bulan purnama kemarin?" Tanya tetua kucing.
Punar memandang tetua kucing sebagai kerabat yang baik karena seringkali dia menerima makanan dari mereka. Punar sangat menghormati para tetua kucing.Â
"Tetua, saya mencari kuburan ayah saya Boma, yang katanya ada di kampung ini. Saat bulan terang, aku bisa lebih jelas melihatnya"
"Boma? Berarti kamu juga anaknya Boma?"
Para tetua kucing merasa terkejut. Mereka tidak menyangka kalau ternyata Punar adalah anak Boma, tetua kucing yang paling dihormati dan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Demikian juga dengan para kucing yang lain. Mereka tidak hanya terkejut, namun juga bersorak.Â
"Punar, kalau begitu kamu sudah sepantasnya menjadi tetua kucing di kampung ini." Kata salah satu tetua kucing.
"Tidak para tetua. Saya lebih suka begini. Saya lebih suka mondar-mandir keliling kampung, sehingga saya bisa ketemu dengan banyak kucing dan bermain dengan mereka. Ijinkan saya."
Malam-malam berlalu. Punar tetap mondar-mandir keliling kampung.Â
Â
-----------
Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana Community
Disini : https://www.facebook.com/groups/175201439229892/
Silahkan bergabung di group FB Fiksiana Community
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI