Mohon tunggu...
Angga
Angga Mohon Tunggu... Freelancer - Content Writer

Seorang penulis yang suka dengan dunia teknologi

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Pengalaman Panjang Tidak Menjamin Karier Gemilang, Kok Bisa?

6 Maret 2024   12:15 Diperbarui: 6 Maret 2024   12:50 178
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Pekerja Berpengalaman (Sumber: freepik)

Orang bilang pengalaman kerja itu penting. Semakin panjang pengalamannya, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan karir yang bagus. Sayangnya, dunia ini tidak sesimpel itu. Realitanya, tidak sedikit orang yang punya seabrek pengalaman namun justru kesulitan mendapat pekerjaan.

Kalau mau jujur-jujuran, pengalaman panjang terkadang justru bisa jadi bumerang. Bahkan untuk beberapa posisi, employer justru sengaja mengeliminasi kandidat berpengalaman dengan alasan-alasan tertentu.

Keputusan seperti ini biasanya diambil karena alasan yang tidak jauh-jauh dari efisiensi. Sama halnya dengan konsumen yang seringkali berusaha mencari barang murah untuk jenis barang-barang tertentu, perusahaan juga cenderung mencari tenaga kerja murah untuk menempati posisi-posisi tertentu. Lantas bagaimana pengalaman membantu dalam karir seseorang?

Pengalaman Panjang Berarti Starting Point Gaji yang Lebih Tinggi

Saat melirik pekerja berpengalaman, kita seringkali terpesona dengan nilai jual yang lebih tinggi. Tentu saja, mereka membawa ke meja kerja sejuta pengalaman dan keterampilan yang luar biasa. Tapi jika dilihat dari sisi perusahaan, ini berarti biaya yang lebih mahal untuk dikeluarkan.

Pekerja berpengalaman seringkali memiliki starting point gaji yang jauh di atas standar. Misalnya jika suatu posisi biasa dibayar Rp 3 juta, pekerja berpengalaman tidak akan bersedia memulai dari angka tersebut. Mereka membawa pengalaman, dan itu artinya mereka punya harapan gaji yang lebih tinggi sesuai dengan keterampilan dan kompetensi yang dimiliki.

Tapi, di luar itu semua, nyatanya, tidak semua posisi memerlukan pekerja dengan deretan pengalaman panjang. Beberapa perusahaan bahkan lebih memilih untuk menghindari kandidat berpengalaman dengan alasan-alasan tertentu. Salah satunya adalah untuk mengurangi beban finansial terkait gaji.

Perusahaan sering mencari kandidat dengan starting point gaji yang lebih rendah untuk posisi-posisi tertentu. Ini mungkin terdengar tidak adil, tapi seperti konsumen yang mencari barang murah, perusahaan pun mencari tenaga kerja murah untuk mengisi kebutuhan spesifik.

Bukan Sekedar Pengalaman Panjang, Namun Seberapa Banyak Ilmu yang Diserap Selama Bekerja

Pengalaman panjang bukanlah ukuran tunggal kesuksesan dalam karir. Tidak peduli seberapa lama seseorang telah menghabiskan waktu dalam suatu bidang, apa yang sebenarnya penting adalah seberapa banyak ilmu yang berhasil diserap.

Bayangkan dua pekerja, satu dengan pengalaman 2 tahun dan yang lainnya dengan pengalaman 10 tahun. Jika ilmu yang dimiliki oleh pekerja berpengalaman 10 tahun sama dengan pekerja 2 tahun, apakah sepadan untuk membayar lebih mahal?

Kejadian seperti ini sering terjadi pada jenis pekerjaan yang cenderung repetitif dan sama dari waktu ke waktu. Manusia butuh tantangan untuk berkembang. Bisa dikatakan, tantangan dalam pekerjaan inilah kunci perkembangan. Jika seseorang terus menerus berada dalam pekerjaan yang repetitif atau memiliki sedikit ketidakpastian, ilmu yang diperoleh selama bertahun-tahun bekerja mungkin tidak mencerminkan tingkat kemajuan yang diharapkan.

Selain itu, dorongan belajar yang rendah bisa menjadi penghambat pertumbuhan karir. Meskipun seseorang telah bekerja bertahun-tahun dalam bidang tertentu, jika rasa ingin tahu dan semangat belajarnya rendah, maka ilmu yang dimilikinya juga akan stagnan.

Jika Punya Pengalaman, Jangan Hanya Tunjukkan Berapa Lama Menekuni Suatu Profesi

Punya pengalaman panjang dalam suatu profesi? Jangan hanya sekedar mencantumkan angka tahunnya, tapi coba benamkan diri dalam kisahnya juga. Pengalaman sejatinya bukan hanya tentang berapa lama bekerja, tapi juga tentang bagaimana kita mengukir jejak dan memberi kontribusi nyata.

Jangan hanya mengandalkan hitungan tahun sebagai penentu keahlian. Tunjukkan apa saja yang telah dilakukan selama itu. Ceritakan kisah sukses kita, problem-problem yang berhasil diselesaikan, dan bagaimana cara unik kita menyelesaikan masalah tersebut. Pengalaman bukan hanya sejarah panjang, tapi juga kumpulan kisah-kisah yang membuat kita berbeda.

Pengalaman harus tercermin dalam cara pandang dan cara berpikir yang telah berkembang seiring waktu. Jangan hanya sekedar menghitung tahun, tetapi tunjukkan bagaimana pengalaman itu mempengaruhi cara kita melihat dan menghadapi situasi.

Tidak lupa, bagikan juga bagaimana perjalanan panjang ini membentuk pertumbuhan pribadi. Apa yang telah dipelajari dari setiap pengalaman? Bagaimana kita mengembangkan diri setiap kali menghadapi tantangan? Ceritakan perubahan positif dalam cara berpikir dan pendekatan kita terhadap pekerjaan.

Jebakan Rutinitas yang Menghambat Pertumbuhan

Seringkali, kita terjebak dalam jebakan rutinitas di dunia pekerjaan. Memang, melakukan hal yang bisa diprediksi dan familiar terasa lebih nyaman. Tapi kita juga harus sadar bahwa terlalu lama terperangkap dalam rutinitas juga bisa menghentikan pertumbuhan dan membuat pertumbuhan karir berhenti.

Pekerja yang terlalu lama berada dalam zona nyaman seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang tertinggal, baik dalam hal kemampuan maupun pengetahuan jika dibandingkan dengan sekitarnya. Ini berimbas pada kemampuan dan nilai yang kita miliki di tempat kerja. Pada akhirnya, penghasilan cenderung stagnan karena kita tidak mengalami perkembangan yang signifikan.

Untuk meraih kemajuan dalam karir, kita perlu keluar dari zona nyaman rutinitas. Tantang diri sendiri dengan hal-hal baru, hadapi tantangan, dan buat variasi dalam pekerjaan kita.

Pertumbuhan dalam kemampuan selalu berimbas pada penghasilan yang lebih tinggi. Saat kamu mampu melakukan hal-hal baru dan menantang diri, nilai yang kamu bawa ke meja kerja juga meningkat. Ini tidak hanya membuat pekerjaanmu lebih baik, tetapi juga membuka pintu untuk peluang baru dan kenaikan gaji.

Terus Belajar, Terus Menantang Diri Sendiri

Salah satu kunci untuk menjadi profesional yang bernilai adalah dengan terus belajar dan menantang diri sendiri. Pengalaman bukan hanya tentang berapa lama kita menghabiskan waktu di suatu profesi, tapi seberapa banyak ilmu yang kita serap selama menjalani profesi tersebut.

Jangan hanya terpaku pada rutinitas harian. Manfaatkan setiap pekerjaan sebagai peluang untuk belajar hal baru. Gali ilmu yang tidak bisa ditemukan di buku, pelatihan, atau cerita pengalaman orang lain. Setiap tugas, tantangan, dan kegagalan mengandung pelajaran berharga.

Perbedaan antara tahu dan mengalami itu sangat jauh. Belajar dari pengalaman diri sendiri memiliki bobot dan nilai yang tak tergantikan. Meskipun cerita pengalaman orang lain memberikan wawasan, namun belajar melalui pengalaman langsung akan membawa pemahaman yang lebih mendalam.

Mumpung kita diberi kesempatan untuk "mengalami," manfaatkan itu untuk mengembangkan diri. Tantang diri sendiri untuk melakukan lebih baik dari sebelumnya. Jangan takut pada kesalahan, karena setiap kesalahan adalah kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun