Sumber mata air suku Neonbeni yang biasa disebut dengan air Naijalu’u ini, adalah air hidup yang telah digunakan sejak zaman nenek moyang dan menjadi warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Masyarakat Ekafalo yakin akan adanya kekuatan Ilahi yang bersemayam di tempat-tempat khusus seperti sumber air, pohon-pohon besar yang sudah sangat tua usianya, yang dianggap keramat. Mereka percaya bahwa alam dapat memberikan hasil yang cukup bagi manusia dan sebaliknya, manusia juga memiliki peran untuk melindungi alam, seperti air pemali suku Neonbeni yang telah memberikan kehidupan yang layak bagi seluruh masyarakat Ekafalo. Hal ini sejalan dengan pendapat Djunaedi bahwa masyarakat adat memiliki sumber mata air yang dikeramatkan dan tidak sembarangan orang boleh memanfaatkannya, sehingga dapat memberikan arah pengaturan melalui kearifan lokal untuk memanfaatkan sumber air secara bijaksana. Sampai saat ini kepercayaan masyarakat adat pada kearifan lokalnya akan hutan kramat menjadi daya tarik sebagai upaya yang kuat untuk menjaga dan melestarikan sumber air.
- Adanya Hubungan Timbal Balik
- Masyarakat Ekafalo mengidentifikasi dirinya sebagai bagian yang terintegrasi dengan alam semesta dalam hubungan yang saling terkait, tergantung dan saling mempengaruhi. Hal ini sangat penting untuk menciptakan hubungan yang selaras, serasi dan seimbang untuk mencapai suasana harmonis antar manusia dengan lingkungannya. Menurut alam pikir masyarakat Ekafalo yang bercorak religius, alam semesta ini dihuni oleh roh-roh yang bertugas menjaga keseimbangan struktur, mekanisme dan irama alam. Jika perilaku manusia menjadi serakah, merusak keseimbangan alam dan tidak selaras dengan irama alam maka akan terjadi gangguan, ketidak selarasan dan kegoncangan dalam alam semesta dalam bentuk bencana alam, wabah penyakit, banjir, kekeringan dan tanah longsor sebagai wujud kemarahan roh-roh penjaga alam tersebut. Bagi I Nyoman Nurjaya, pola pikir seperti ini menimbulkan praktik-praktik pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, bertanggung jawab dan berkelanjutan, hanya saja di butuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat dan pemerintah untuk memayungi melalui kebijakannya berupa penyusunan regulasi di daerah agar berlaku secara umum tidak hanya masyarakat adat yang menjaga kelestarian fungsi air.
Adanya Pantang atau Larangan
Didukung oleh Rina Maryana dalam tulisannya tentang “Penerapan Nilai Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup” yang mengatakan bahwa masyarakat adat dengan karakter keagamaan, percaya akan leluhur dan selalu melakukan ritual yang mengandung nilai-nilai luhur. Mereka percaya bahwa disetiap tanah, hutan, sungai, selalu ada unsur gaib yang menjaga daerah tersebut sehingga masyarakat wajib menjaga kebersihan lingkungannya dengan tidak merusak lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan, karena kepercayaan mereka bahwa ketika lingkungan hidup kotor dan tidak terjaga maka akan terjadi sanksi dari Tuhan atau sanksi gaib/musibah kepada masyarakat yang tidak menjaga lingkungannya dengan baik.
Adanya Pembangunan di Sumber Mata Air dan Lingkungan Sekitar
Tatanan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat Ekafalo setempat mengandalkan pengetahuan lokal (Local Ecological Knowledge) dalam tindakan pengelolaan mata air antara lain menanam pohon, gotong royong membersihkan mata air sebagai tempat penghayatan nilai-nilai luhur budaya yang didahului dengan melakukan tradisi adat sesudah tanggal 4 November. Selanjutnya membuat saluran air atau irigasi ke persawahan dan melakukan sosialisasi dalam menjaga mata air. Masyarakat Ekafalo tidak hanya melakukan tindakan pengelolaan mata air saja akan tetapi masyarakat juga melakukan tindakan konservasi mata air yaitu dengan tidak menebang pohon; sebaliknya mereka menanam pohon yang berdampak kepada peningkatan infiltrasi.
Upaya pelestarian lingkungan hidup kini menarik perhatian pemerintah daerah setempat untuk melakukan upaya pembangunan di sumber air pemali dengan memperbaiki jalur air, membuat bak-bak penampung di setiap RT/RW agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan-minum masyarakat. Kerjasama yang baik ini pun akhirnya menghasilkan sebuah bendungan yang disebut dengan bendungan Benkoko. Pemerintah dan lembaga adat setempat kini telah membuat berbagai macam aturan-aturan untuk tidak merusak alam. Hal ini justru mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat setempat sehingga mereka tidak sembarangan melakukan hal-hal yang melanggar aturan. Pembangunan yang tepat bukan berarti menghilangkan adat istiadat atau menghilangkan kekayaan budaya pada suatu daerah, tetapi untuk memajukan potensi dan kekayaan yang ada pada daerah tersebut. Sebab jika pembangunan tersebut malah menghilangkan adat istiadat, maka bisa dipastikan bahwa bangsa tersebut akan kehilangan jati dirinya.
Bagi masyarakat Ekafalo kearifan lokal kini dapat dimaknai sebagai sebuah pemikiran tentang hidup. Pemikiran yang dimaksud dilandasi dengan nalar yang jernih, budi yang baik dan memuat hal-hal positif untuk kemuliaan manusia. Tindakan masyarakat setempat untuk menganggap hutan sebagai keramat dan tidak mengganggu kawasan tersebut sebagai adalah satu kearifan lokal terhadap konservasi dan pelestarian sumber daya air. Dengan demikian upaya masyarakat Ekafalo dalam melestarikan sumber mata air adalah dengan menjadikan sumber mata air sebagai air pemali atau larangan, yang tidak boleh dirusak oleh manusia. Sumber mata air pemali kini dianggap sebagai suatu kawasan suci yang terdapat banyak larangan dan sanksi apabila melanggar.
Kesimpulan
Haruslah diakui bahwa kearifan lokal mampu menjawabi persoalan zaman, sebab kearifan lokal didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup dan pandangan hidup yang mengakomodasi kebijakan (wisdom). Kearifan lingkungan atau kearifan lokal sudah ada di dalam kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu mulai dari zaman prasejarah hingga saat ini. Kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat.
“Toit Nenuf Ma’tanif” merupakan sikap meminta kekuatan, keajaiban atau mukjizat, dengan melakukan upacara adat di sumber mata air pemali suku Neonbeni. Toit Nenuf Ma’tanif dimaknai sebagai sebuah kebijakan/kearifan lokal masyarakat Ekafalo yang mengandung nilai-nilai luhur budaya dan larangan-larangan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Selain itu, melalui ritual adat ini masyarakat Ekafalo juga mau menunjukkan seberapa besar mereka menghormati Tuhan yang dikenal dengan sebutan Uis Neno dan sekaligus menghargai para leluhur yang telah menjaga dan mewariskan alam dan kebudayaan bagi generasi berikut dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
******