Menyediakan kebutuhan selama Bulan Ramadhan dan lebaran, sebenarnya tidak salah. Apalagi kebutuhan itu dibarengi dengan berbagi. Bagi yang berkecukupan, belanja kebutuhan lebaran lebih banyak tidak jadi persoalan. Tak akan menguras ekonomi keluarga yang berbahaya di masa datang. Namun bagi yang berpenghasilan pas-pasan, rasanya harus lebih bijak dalam belanja.
Tak perlu berlebihan. Inilah kuncinya. Jika dalam ibadah harus ditingkatkan, dalam konsumsi semestinya biasa-biasa saja. Makan dan sahur secukupnya. Jika selama ini makan hanya telor dan tempe, ya itu saja gak perlu lebih. Untuk sekedar mencukupi kebutuhan gizi, ada baiknya belanja dengan makanan yang sehat dan sarat nutrisi. Dilihat bukan banyaknya namun kualitas kandungannya.
Dengan anggaran yang sama di hari-hari biasa, mestinya bisa lebih baik di bulan Ramadhan. Jika menggunkan anggaran tetap, anggaran belanja 3 kali tentu bisa lebih berkualitas jika dibelanjakan untuk dua kali dengan makanan yang lebih berkualitas.
Borosnya anggaran rumah tangga di Bulan Ramadhan juga disumbang dari anggaran persiapan lebaran. Tak bisa dihindari, Iedul Fitri merupakan hari raya, perlu dirayakan dengan suka cita. Perayaan identik dengan keterseidaan makanan lezat, pakaian dan perhiasan yang bagus.
Mensiasati bengkaknya pengeluaran ini, alangkah baiknya tidak dikeluarkan dalam satu waktu. Bisa saja membeli kue-kue kering atau makanan tahan lama dilakukan sebelum lebaran. Belanja baju keluarga pun bisa dicicil sebelum bulan puasa datang.
Terakhir dan sangat penting, kita harus mengatahui mengapa puasa itu diwajibkan setiap muslim di Bulan Ramadahan. Tujuan puasa yakni ketaqwaan dalam pengertian yang luas. Jika tujuan puasa ini benar-benar dihayati dan ingin di raih, rasanya istilah boros pegeluran selama Bulan Ramadhan tak akan terdengar lagi. Semoga...!!
Â
Â
Â
Â
  Â