Jika kondisi ini terjadi pada sebuah bank, sebaiknya dilakukan proses assessment untuk mengukur efektivitas dari unit kerja. Apakah satu unit kerja membutuhkan sekian banyak orang? Atau malah ada unit kerja yang memang sebetulnya tidak terlalu diperlukan. Jika ada unit kerja yang memang dibentuk untuk kepentingan segelintir pihak, dan itu terjadi di setiap divisi, Â maka berapa banyak pemborosan biaya yang dibuang? Sebaiknya hentikan pemborosan tersebut. Alokasikan kebutuhan tenaga kerja dengan cermat.
Lakukan analisa terhadap proses yang dilakukan oleh unit kerja, ukur dengan outputyang dihasilkan. Apakah yang dilakukan oleh unit kerja tersebut signifikan? Jika beberapa unit kerja memiliki fungsi yang terkait dan dapat digabungkan, sebaiknya digabungkan. Dan untuk unit kerja yang dianggap tidak diperlukan sebaiknya dihapuskan. Inilah yang dilakukan dalam proses re-organisasi.
Kemudian bagaimana dengan kantor cabang bank yang hanya menjadi beban operasional? Mengingat biaya operasional bagi kantor cabang bank cukup tinggi, saya berpendapat sebaiknya ditinjau kembali kelayakan bisnisnya. Untuk kantor-kantor yang prospeknya suram, saya rasa sebaiknya secara bijaksana dan dewasa manajemen bank mengakui kesalahannya.Â
Kantor-kantor tersebut sebaiknya ditutup, direlokasi ke tempat yang lebih berprospek. Sesuaikan dengan fokus dari rencana bisnis bank. Atau setelah kantor-kantor tersebut ditutup, bank dapat serius mengembangkan lini usaha baru, misalnya electronic banking, tentunya dengan alokasi dari biaya kantor bank dialihkan menjadi modal untuk pengembangan electronic banking.
Sedangkan untuk para personel yang tersisih dari proses re-organisasi atau penutupan kantor dapat dialokasikan menjadi tenaga marketing. Karena idealnya porsi tenaga kerja terbesar adalah marketing dan pengembangan bisnis. Jika porsi tenaga kerja terbesar dari unit pendukung atau non-bisnis, bagi saya sangat aneh.
Dalam membenahi organisasi memang diperlukan keseriusan, komitmen dan kesabaran, karena proses ini membutuhkan waktu. Terlebih bagi bank yang memiliki pola organisasi kekeluargaan atau dikelola sebagaimana perusahaan keluarga.Â
Ditambah adanya konflik kepentingan dari beberapa pihak di kalangan manajemen, sehingga visi dan misi menjadi semakin sulit untuk diarahkan. Atau bagi bank tersebut diperlukan figur kepemimpinan dengan konsep one man show dengan gaya otoriter. Mungkin saat ini banyak juga bank yang berhasil dengan gaya one man show. Jika demikian, memang jaman sudah edan!
(ilustrasi: shuttershock.com)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H