Penerapan IoT dalam bidang pertanian termasuk ke dalam kategori yang lumrah kita jumpai. IoT pada bidang ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas hasil panen dari petani.
Survei Jackpot mengatakan bahwa hanya 6 dari 100 orang berumur 15-26 tahun saja yang tertarik bekerja di bidang pertanian. Kurangnya minat generasi muda atau Gen Z menjadi petani tentu akan sangat mengganggu tingkat produktivitas hasil tani karena sistem regenerasi yang lambat.
Belum lagi stigma negatif Gen Z terhadap petani yang identik dengan garis kemiskinan. BPS menunjukkan bahwa setengah dari 27.76 penduduk miskin di Indonesia berasal dari mereka yang berprofesi sebagai petani. Hadirnya IoT dapat membantu petani dalam proses peningkatan efisiensi produksi dan juga distribusi. Lancarnya proses distribusi yang terjadi, secara perlahan dapat menjadi alasan kuat untuk tingkatkan kesejahteraan petani secara menyeluruh.
Penggunaan IoT dalam bidang pertanian juga dinilai mampu menarik minat Gen Z yang senang akan dunia digitalisasi bisnis. Image bahwa petani adalah pekerjaan yang hanya cocok untuk orang desa, gaptek atau lansia, perlahan bisa dikikis dengan kehadiran IoT ini.
Melalui IoT, istilah "Petani Berdasi" di telinga generasi muda dapat menggema kembali. Adapun contoh penerapan IoT di bidang pertanian dapat kita lihat dengan jelas melalui alat-alat seperti;
Smart Greenhouse. Secara otomatis, greenhouse dapat mengatur tingkat pencahayaan, suhu dan kelembaban yang dimilikinya untuk menjaga tanaman di dalamnya.
Agricultural Drone. Memudahkan petani untuk melakukan penyemprotan pestisida dan pengawasan hama penyakit pada lahan pertanian.
Precision Farming. Digunakan untuk mendapatkan data yang akurat terkait penggunaan debit air dan penyebaran tanah, apakah sudah tepat sasaran atau belum.
Field Monitoring System. Memudahkan petani untuk melakukan pengawasan lahan pertanian real-time, 1x24 jam nonstop.
Pengelolaan Irigasi.
dan lain-lain.