Mohon tunggu...
Amir Mahmud Hatami
Amir Mahmud Hatami Mohon Tunggu... Lainnya - Aku Berpikir, Maka Aku Kepikiran

Menemukan sebelah sepatu kaca di jalanan. Siapa tahu, salah satu dari kalian kehilangan!

Selanjutnya

Tutup

Humor

Sarjana Tua

21 Desember 2021   00:12 Diperbarui: 21 Desember 2021   00:44 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Apa untungnya aku memikirkan hari libur datangnya kapan? Toh, aku hanya seorang penganggur; sonder penghasilan. Mau angka berwarna merah itu jatuh di hari Minggu, Senin, Selasa, dan seterusnya, aku tetap masa bodoh terhadap perhitungan Masehi.

Ketidakpedulianku pada hari libur kadung mandarah daging. Ingin rasanya aku menghilangkan kata “libur” dan membiarkan kata “hari”. Kata “hari” masih dapat ku tolerir, akan tetapi kata “libur” sudah semestinya tidak digunakan oleh para pengangguran, kalau perlu dilupakan saja. Namun, apalah daya, dua kata itu tidak mungkin dipisah; tergabung menjadi satu kalimat, syahdan merugikan satu pihak. Tentunya pihak ku, kaum penganggur.

Mendapati diri semakin terlecehkan, sisi radikal ku menggelora, menuntut agar aku tidak memajang almanak di dinding kamar. Sejujurnya aku ingin. Itu pun karena aku tergoda dengan gambar-gambar wanita bohay yang terdapat di almanak. Tubuh mereka (model wanita) singset, bak gitar Spanyol, sembari berpose layaknya Brand Ambassador sebuah produk pakaian high class. Meski, yah, kenyataannya, aku dapati wanita seksi itu di lembar almanak sebuah produk krupuk, terasi, hingga toko emas langganan Ibuku.

Pikirku, mungkin mereka sengaja menempatkan gambar wanita seksi berdampingan dengan jadwal Masehi. Pasalnya, wanita mampu membuat lelaki lupa akan segalanya. Sedangkan tanggalan, berfungsi untuk menjadwalkan banyak hari-hari penting, seperti: gajian, liburan, dan kelahiran. Dengan begitu, mungkin orang-orang akan melupakan waktu gajian sebab tersihir oleh paras cantik nan menggoda dari wanita-wanita dalam gambar.

Dari ketiga contoh tadi, hanya yang terakhir yang aku anggap patut untuk mendapat tempat didalam memori otak. Pasalnya, dengan mengingat tanggal lahir, aku tidak perlu mengeluarkan KTP saat mengisi kolom kelahiran di formulir pendaftaran kerja yang HRD berikan. Juga, memudahkanku mengalkulasi perkembangan umur setiap tahunnya.

*******

Purworejo, 12 Juli 1997. Tanggal dan tempat di mana aku terlahir, sekaligus diberi nama berbau-bau jantan, Vivaldi Erzak. Orang-orang biasa menyapaku “Valdi”, ada juga yang memilih “N’jak”. Terserah, aku tidak ingin ambil pusing, asalkan, jangan memenggal 3 huruf akhir nama depanku. Ya, jangan sekali-kali menyapaku “Viva”, sebab, jika di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki arti “Hidup”.  

Bagaimana mungkin pengangguran sepertiku dapat hidup, terkecuali ada individu/kelompok yang sudi menghidupiku—orangtua, saudara, pemerintah, dan teman. Ah, sebenarnya aku ragu mencantumkan “teman”.         

Jika dihitung-hitung, per 1 Desember 2021 lalu, umurku sudah 24 tahun lebih lima bulan. Secara kuantitatif, umurku masih terbilang sangat muda, namun, secara kualitatif diriku dianggap tidak produktif karena masih menganggur. Wajahku pun tampak 10 tahun lebih tua; kulit kencang perlahan mengendur dan rona wajah berseri ku memudar. Penyebabnya, apalagi kalau bukan memikirkan nasibku yang sudah setahun menganggur.  

Status pengangguran seakan menolak lepas dari diriku. Orang di sekelilingku pun lama-kelamaan menjadi gemas. Semula, mereka bisa memaklumi kondisi ku yang lulus kuliah di tengah terjangan wabah Covid-19. Namun, setelah usia menganggur ku menyentuh 9 bulan, terjadi perubahan persepsi pada diri mereka. Antagonisme mulai menyeruak, orangtua, teman, dan saudaraku yang tadinya satu suara, seketika terpecah. Sialnya, kebanyakan dari mereka malah berbalik menyerangku. Anggap saja delapan dari sepuluh orang menuduhku ngedul.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humor Selengkapnya
Lihat Humor Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun