Mohon tunggu...
Aminuddin Malewa
Aminuddin Malewa Mohon Tunggu... Freelancer - Penjelajah narası

Penikmat narasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ontologi Sampah, Identitas, dan Konsekuensinya

18 Januari 2020   15:43 Diperbarui: 18 Januari 2020   20:56 386
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pengenalan tersebut yang apabila menghasilkan sesuatu pola ketika diterapkan pada banyak individu lain dapat memberi gambaran konstruksi sosial yang sebenarnya melingkup suatu fenomena, kejadian atau keadaan. 

Keajegan pola dalam struktur sosial dan kultur tertentu akan membawa pada kesepakatan definisi. Epistemologi istilah sampah dalam masyarakat kemudian dapat ditelusuri dengan lebih terang.

Bahasa Indonesia memiliki banyak kosa kata yang dalam keseharian sering diungkap bahkan dengan pemaknaan yang dapat ditukar-tukar, meski kesepakatan tersebut dilakukan diam-diam. 

Kotoran, limbah, sampah, barang bekas dan rongsokan adalah beberapa contoh kosakata yang pada titik tertentu terkadang membuat komunikasi antar warga berujung sebatas kesepahaman bersama tentang keadaan, bukan kesepakatan untuk bertindak, apalagi tekad bersama mengubah keadaan.

Meminjam konsep ilmu komunikasi, proses komunikasi dalam bentuk pengaliran informasi selalu diawali dengan proses menyusun atau menstrukturkan pesan (encoding), kemudian proses penyampaian (transmisi) lalu tahap penerimaan yang berisi proses penguraian atau dekonstruksi pesan (decoding) agar bisa dipahami oleh penerima pesan. 

Ketiga fase tersebut memiliki peluang gangguan (noise) yang bersumber dari luar yang bisa memengaruhi keutuhan setiap fase berproses. 

Namun umumnya gangguan lebih sering ditimpakan pada pihak ketiga terutama dalam fase transmisi. Bagaimana kalau gangguan pemaknaan justru berasal dari dalam individu sendiri?

Garbage in garbage out (Sampah masuk sampah juga keluar) adalah ungkapan yang sering kita dengar. Tapi coba renungkan kembali, barangkali cara kita mendefinisikan sampah itulah sampah sesungguhnya! 

Pada skala kecil bisa saja ini tidak terasa, bayangkan ketika perbedaan itu terjadi antara masyarakat dan pemerintah saat saluran air tersumbat, tumpukan menggunung di tepi jalan dengan aroma khasnya yang menyengat lalu turun hujan. 

Tidakkah kita menyaksikan jagat media dan dunia maya dipenuhi oleh hujatan berbalas makian, informasi sampah berseliweran di jagat maya? Seketika pula kata sampah bermunculan baik sebagai kata benda maupun kata sifat.

Kembali kita dapat mengajukan pertanyaan, sudah tepat dan sepakatkah kita dengan pemaknaan objek yang disebut "sampah" selama ini? Samakah arti sampah bagi kita dengan para pemulung? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun