Mohon tunggu...
Amas Mahmud
Amas Mahmud Mohon Tunggu... Jurnalis - Pegiat Literasi

Melihat mendengar membaca menulis dan berbicara

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pertahanan Nasional, Ikhtiar Memproteksi Kebijakan

10 Juni 2022   19:34 Diperbarui: 11 Juni 2022   08:23 195
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


TIDAK
mudah sebuah negara maju dan plural seperti Indonesia dikendalikan sepenuhnya. Dari sisi teori, konstruksi regulasi dapat dilakukan. Berbeda dalam hal aktualisasi. Bahkan terjadi kontradiksi, antara visi dan realisasinya.

Pemerintah dengan narasi pembangunan. Mengharapkan agar rakyat bisa dimobilisasi menuju gerbang kemajuan. Tapi, selalu terhambat. Sekedar menjadi mimpi. Alhasil, tidak sedikit distingsi dan disparitas antara pemerintah dengan rakyat. Seharusnya satu kiblat, satu frekuensi. 

Bergerak melakukan perubahan dan pembaharuan, bukan negara dibuat terpolarisasi. Saling dibenturkan dengan narasi perpecahan. Rakyat mestinya lebih maju, progresif dalam urusan-urusan menerima pelayanan terbaik dari pemerintah.

Pada sisi yang lain. Lahirnya media sosial juga menunjang narasi kebencian kian kuat. Bagai gelombang badai yang memukul mundur rakyat. Hasilnya, antara harapan rakyat dengan capaian yang diraih tidak seimbang. Pemerintah mengalami surplus pengetahuan, program, dan visi. Namun miskin dalam mewujudkannya.

Selanjutnya, bagaimana membangun pertahanan nasional dari sisi menangkal narasi liberalisme. Kencangnya infiltrasi gelombang pemikiran import, tidak semata yang ada kaitannya dengan paham produk Timur Tengah. Wahabi, khilafah, atau madzhab pemikiran radikalisme.

Ragam paham trans nasional itu sebetulnya menjadi sampah. Kadang kala, kita di Indonesia saja yang dibodohi. Sehingga merasa bangga bicara hak asasi manusia. Maunya berfikir mineral, dan gagah-gagahan dengan wacana toleransi, pluralisme. Ternyata, dibalik itu. Isme tersebut menyelipkan kepentingan "dakwah" sendiri.

Praktek propaganda dan perpecahan sosial direkayasa masuk di dalamnya. Akhirnya, rakyat Indonesia dibuat terbelah. Musuh rakyat juga tidak main-main dibenturkan antara Pancasila vs agama. Dengan dalil modernisme, globalisasi rakyat disodorkan paham toleransi yang kebablasan.

Tak jarang, rakyat kita saling memusuhi sesamanya. Memelihara sentimen. Kaum nasionalis menyerang kelompok yang dinilai "sok religius". Paham Timur Tengah dipertengkarkan dengan paham Barat. Berpandangan keagamaan, dicurigai pro teroris. Sementara disatu sisi, gejala kelahiran kembali komunisme menjadi ancaman.

Ramaihlah percakapan di ruang-ruang sosial. Kemelut yang lahir memang bukan karena dadakan. Melainkan by setting. Biar negara punya musuh bersama. Dalam waktu bersamaan rakyat kebingungan. Terhimpit atas bermacam klaim-klaim kebenaran yang penuh indikasi kepentingan politik.

Benturan ideologi dibuat menjadi begitu menghebohkan. Indonesia dimanfaatkan sebagai laboratorium, panggung untuk mempertengkarian ideologi tersbut. Maklum juga, karena kebanyakan kaum intelektual, pemimpin kita juga mudah dibuat terkecoh dengan by design percaturan kepentingan global.

Harusnya, sistem proteksi diperkuat. Jangan sampai Indonesia terus-menerus menjadi bahan observasi negara atau agenda tertentu. Dengan tujuan dibuat konflik. Lantas dari letupan-letupan konflik tersebut, mereka mengeruk kekayaan negara ini. Mereka mengambil faedah yang tidak sedikit. Rakyat lagi-lagi yang paling dirugikan dalam hal ini.

Jika proteksi diperkuat. Intelijen internasional tidak mudah menjalankan agendanya di Negara ini. Kita punya kedaulatan, rakyat harus diedukasi diberi bekal. Setidaknya untuk tidak mudah dimainkan. Dibenturkan dengan hasutan dan pertentangan-pertentangan teknis.

Akhirilah segala bentuk kompetisi kepentingan yang mengganggu rakyat. Pertahanan nasional wajib diperkuat. Aparat negara yang terlatih, dan hebat-hebat itu harus lebih meningkatkan tanggungjawabnya. Rasa cintanya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Agar kedaulatan rakyat tidak tergadai. Para antek asing darimana pun jangan lagi diberi kelonggaran.

Berhenti memberi mereka kesempatan untuk membuat cemas rakyat. Baik agen asing dari Amerika, Cina, Arab Saudi, dan negara yang selalu menyedot kekayaan alam di Indonesia tidak boleh diberi kesempatan lagi. Buatlah formula kerja sama yang sederajat. Setara, tidak boleh kita menjadi budak di negara sendiri. Sementara orang asing, menjadi tuan di negara kita. Ini namanya penindasan gaya baru. Kita telah hidup di era kemerdekaan.

Ketika pertahanan nasional terproteksi, maka kebijakan negara tidak mudah diobok-obok. Karena bagaimanapun gangguan eksternal terhadap stabilitas Indonesia tetap punya pengaruh. Jika riak-riak berlanjut. Kisruh kepentingan dari luar, pasti memberi sumbangsih terhadap instabilitas nasional. Baik dari aspek politik, ekonomi, maupun pertahanan keamanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun