Semua seakan tidak berubah suasananya seperti ketika aku tinggalkan kampung ini dua tahun lalu.
Pandemi seakan nyata membuat rukun dan guyub warga kampung, semua masih asri hanya itu sedikit informasi dari adikku yang kebetulan sudah bersuami dan tinggal di desa sebelah.
"Mending kerumah kami mas, maaf aku hanya bisa bersihkan rumah tabon kita seminggu sekali karena hanya hari minggu aku bersama suamiku libur kerjanya" tulisnya di hpnya
"Maaf juga, mungkin tahun ini aku bisa mudik kerumah bapak ibu, mudik pulang seharusnya"jawabku menepis keraguannya.
"Sebaiknya jangan pulang" mohonnya padaku.
Gundah rasanya bila adikku berkata, aku tahu adikku yang pintar ngaji dan hafal qur'an itu punya feling jiitu dan seakan punya indera keenam itulah sedikit keahliannya yang lain.
"Aku ingin selamatkan harga diri kita itu dik" jawabku spontan
"Mending kerumahku dulu, "jawabnya tegas padaku, aku hormati perasaannya sebagai seorang perempuan yang nyata nitis dari ibuku juga meneruskan pengabdiannya.
"Waktu akan menjawab semua ini"aku jawab spontan
"Eantah mengapa waktu masih membeku di dusun ini mas"jawabnya penuh kwatir kepadaku.
"Seorang ustadz diduga memprovokasi warga untuk melawan proyek strategis nasional" berita yang masih terpampang di media online coba aku tepis, realita pertarungam para bandar dan calo tanahlah yang bisa membeli berita dan memutarbalikan fakta yang sebenarnya.