"Pandemi bukan alasanÂ
sepikan hatimu,Â
sepikan usahamu,Â
sepikan silahturahmu..
tetap semangat"
Malam minggu yang sepi hanya sesekali terdengar tawa di angkringan seberang jalan menuju perkampungan nelayan kami dulu banyak cafe-cafe betebaran sebelum pandemi corona ini satu persatu gulung tikar.
Hanya warung angkringan lik Dalijo yang masih buka ramai karena wedang jahenya yang khas di panggang pakai bara.Â
Kata bapak lik Dalijo duru mburuh pada juragan yang punya kapal dan kapok sewaktu kapalnya karam karena mesin mati dan itulah mengapa berubah haluan menjadi buka cafe ceret tiga alias angkringan.
 Bukan masalah nongkrong bapak menyuruhku beli wedang jahe dan sedikit gorengan serta sate telur burung kesukaan adik.
 Ketika aku masuk angkringan itu derai tawa mendadak sepi dan hanya ada satu celetukan padaku
"ini yang sok mau jadi pahlawan hidupkan lagi gedung gudang es itu" aku diam tetapi ada  lik Dal yang peringatkan dia" sst dia anaknya
" aku tidak mau dengar karena aku langsung bayar pesananku.
"kembaliannya ambil saja" Â kataku sambil pergi dari situ.
Sampai rumah bapak hanya tertawa saja
"jangan sok kamu le, berat tuh perbaiki mesin itu semua orang menyerah kok'
"Saya tetap berusaha pak.
"jawabku singkat bapak  simbok dan adik coba hiburku. Sungguh malam minggu yang sepi karena dengar-dengar tetangga desa banyak yang terjangkit wabah corona ini sehingga ada isolasi mandiri berdampak pada pesisir ini semua tempat hiburan di tutup demi kesehatan dan inilah dampak pada kami itulah yang ada saat ini.
Pandemi ini menekan kehidupan sosial ekonomi kami tetapi tekad kami satu selama deburan ombak masih ada dan layar terkembang nafkah tetap ada karena rezeki dari Allah swt kita tetap berusaha semampunya sambil berdoa
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI