Kabar heboh mengguncang warga Kecamatan Gending, tepatnya di Gunung Bentar. Bukan soal jalan tol yang lagi dikebut atau galian C yang makin melebar, melainkan bisik-bisik soal "intan" yang katanya terkubur di dalam perut gunung itu. Dan siapa lagi yang bikin heboh kalau bukan Cak Eko Arrahman, pegiat media sosial, pengamat sejarah.
Hari itu, di Kantor Desa Bulu, Cak Eko duduk santai, ote-ote di tangan kanan, di lanjut menyantap tempe penjes. Tatapannya tajam ke depan, seolah sedang memikirkan strategi besar penyelamatan Gunung Bentar dari tangan-tangan jahil para penambang. Atau mungkin, hanya sedang menimbang apakah harus pesan teh panas atau es teh.
"Tolong dicatat, ini penelitian. Saya ulangi, penelitian!" kata Cak Eko dengan nada dramatis sambil mengangkat sebuah bongkahan batu yang katanya intan.
Pak Lurah yang duduk di sebelahnya melirik batu itu sekilas, lalu menyeka keringatnya. "Cak, itu kok mirip batu kali biasa?" tanyanya ku dengan penasaran.
Cak Eko langsung menatap aku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Antara heran, kecewa, dan lapar. "Jhon, Jhon... Gimana sih? Ini bukan batu biasa! Ini intan versi lokal, asli Gunung Bentar. Saya dapat infonya dari sumber terpercaya!"
Aku masih bingung. "Sumber terpercaya siapa, Cak?"
"Hasil penelitian yang sudah di cek aboratorium," jawab Cak Eko mantap.
Tiba-tiba, suasana kantor desa berubah jadi ajang debat ilmiah. Saya yang duduk di kursi mulai bertanya-tanya di dalam pikiran ku, beberapa mencoba mendekat untuk melihat batu yang diklaim sebagai intan itu. Aku yang mengangguk-angguk seolah-olah paham (padahal tidak paham), ada yang mulai browsing harga intan di marketplace, Cak Eko sesekali menyeruput kopi dan melinting rokok.
Sebetulnya, Gunung Bentar memang sudah lama jadi perbincangan. Selain pemandangannya yang menawan, kawasan ini juga menjadi incaran proyek galian C. Setiap hari, truk-truk besar keluar masuk, untuk jalan tol di lokasi tersebut dan mengangkut tanah dan batu sebagai urukannya.
"Tapi kalau beneran ada intan, ya jangan ditambang sembarangan," kata Cak Eko, kali ini lebih serius.
Aku tetep mengangguk-angguk. Sebagai isyarat setuju, dan aku mulai mulai berpikir bagaimana kalau beneran bisa kaya mendadak. Tapi masalahnya, belum ada satu pun penelitian resmi yang membuktikan keberadaan intan itu.
Aku nyeletuk dari belakang. "Cak Eko, gimana kalau kita jual dulu ke toko emas? Kalau beneran intan, ya lanjut. Kalau enggak, ya sudah."
Cak Eko langsung menegakkan punggungnya. "Jhon, Jhon... Kamu ini kurang nasionalis! Masa langsung dijual? Harus ada kajian, ada penelitian, ada..."
"Ada sponsor?" tanyaku dengan nada polos.
Cak Eko terdiam sejenak, lalu tertawa. "Kamu cocok jadi politisi, Jhon!"
Akupun tertawa. Tapi di balik tawa itu, ada pertanyaan besar yang belum terjawab: Benarkah ada intan di Gunung Bentar, atau ini hanya cerita yang dibumbui rempah-rempah ala Cak Eko?
Sementara itu, kabar ini mulai menyebar ke berbagai grup WhatsApp. Ada yang percaya, ada yang skeptis, dan ada yang sudah bersiap-siap menggali di belakang rumahnya sendiri, siapa tahu ada intan juga.
Bagaimana kelanjutan kisah ini? Apakah Gunung Bentar akan jadi tambang intan nasional? Atau sekadar menjadi bahan obrolan sore di warung kopi? Yang jelas, selama masih ada ote-ote dan tempe penjes, Cak Eko pasti punya teori baru yang siap menghebohkan Probolinggo.
Wallahua'lamÂ
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI