Mohon tunggu...
Ali Iskandar
Ali Iskandar Mohon Tunggu... Lainnya - Pelayan Maszawaibsos

Peminat Sosial Humaniora, tinggal di Lumajang.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Saat Ambyar dalam Menentukan Nikah [Konteks Administratif Pernikahan]

9 Juli 2024   17:05 Diperbarui: 9 Juli 2024   17:13 50
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia


Berkeluarga tidak lepas dengan problematika. Tak peduli apapun kualitas seseorang, jabatan apapun yang disandang, tokoh agama, masyarakat, pemimpin atau bukan tidak lepas dari problematika dalam keluarganya sendiri. Ada kalanya mereka sukses mengatasinya dan tidak sedikit pula yang gagal mempertahankan keluarganya.

Hubungan antara pria-wanita, suami-istri memiliki keunikan tersendiri. Pandangan seserang terhadap sepasang suami istri yang terlihat romantic, serasi bagaikan Romeo Juliet ataupun Nabi Yusuf Zulaikha ternyata tidak sepanjang pernikahan nini lan mintuno. Bahtera rumah tangganya karam diterpa ombak . Nakhoda keluarga tidak mampu mengendalikan kapal keluarga dari terpaan angin dan ombak yang menimpanya. Pada akhirnya  kapal keluarga itu karam dan berganti kertas putusan hakim pengadilan agama.

Suasana romantis pra pernikahan seakan mustahil bila mereka hendak berpisah. Kemana mana selalu bersama. Ketika pria mengantar wanita ke rumahnya maka si pria pulang si wanita ikut mengantar kerumah pria. Demikian seterusnya, sampai membingungkan orang yang melihatnya. Ragam julukan melekat padanya seperti bagaikan prangko, bagaikan dua sisi mata uang atau apapun istilahnya layak disematkan untuknya.

Melihat keadaan demikian orangtua mengambil tindakan dan keputusan cepat agar marwah keluarga tetap terjaga. Ini pula yang seringkali terjadi pada orangtua yang memiliki anak gadis yang merata didesa. Orangtua menilai bahwa keduanya harus menikah bila tidak menanggung malu bila terjadi kehamilan diluar nikah. Ini pula yang menjadi ketakutan orangtua yang memiliki anak gadis.

Gambaran tentang keadaan pergaulan remaja  diatas seakan menunjukkan bahwa mereka telah mengambil keputusan untuk memilih pasangan. Melihat sedemikian erat hubungan mereka maka menunjukkan ketetapan hati akan pilihannya itu. Ketika tawaran orangtua untuk meresmikan hubungan mereka, mereka pun dengan tanggap merespon tawaran orangtuanya dengan senang hati. Bayangan bahagia, penuh bunga menghiasi benaknya sepanjang hari selama tujuh hari tanpa henti.

Dalam administrasi pernikahan ketetapan hati diwujudkan dalam bentuk formulir surat persetujuan. Formulir ini wajib diketahui dan dibubuhi tanda tangan milik kedua calon mempelai. Ini merupakan bukti otentik tentang pernyataan hati kedua untuk siap hidup dalam keadaan apapun. Baik suka maupun duka, lahir maupun batin. Namun demikian ternyata tidak semua calon pengantin memahami surat persetujuan itu. 

Banyak diantara calon pengantin tidak memahami kalimat dalam formulir tersebut. yang mereka fahami adalah bubuhan tanda tangan adalah dalam berkas itu.

Surat persetujuan calon mempelai hakikatnya adalah pernyataan batin secara administrative. Pernyataan itu keluar dari dalam hati keduanya. Bahwa sepakat untuk hidup bersama lahir batin, suka maupun duka. 

Pernyataan itulah yang dalam al Quran disebut dengan istilah 'azzam. Ketetapan hati merupakan keyakinan yang tertancap dari sanubari, yakin dengan sepenuhnya bahwa ia akan hidup bahagia bersamanya. Keyakinan mudah tertanam di hati calon pengantin terutama mereka yang berusia muda bahkan usia dibawah duapuluhan. Dalam kondisi yang labil mereka memutuskan untuk hidup berkeluarga yang penuh dengan problematika yang muncul secara tak terduga.

Reaksi selanjutnya adalah cerita penyesalan, salah pilih maupun kasihan muncul bertubi tubi dari benak mereka. Disadarai bahwa hidup berkeluarga tidak semudaah apa yang ada dalam bayangan. Penuh dengan kejutan dan tantangan tak terduga. Ada kalanya jalanan lurus berhotmic dirasa bosan sehingga salah sat dari keduanya mengambil jalanan terjal penuh batu cadas. Sedang yang lain berharap pada track semula. 

Pria wanita dalam pandanga psikolog adalah makhluk yang unik. Masing masing memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan yang lain. Pada saat mereka yang unik itu  bersatu maka problematika aka nada dengan sendirinya. Bilamana merka dapat menyikapinya dan mengimbangi dinamika itu maka  yang terjadi adalah saling menguatkan satu sama lain. 

Lain halnya dengan mereka yang tidak dapat mengambil sela, maka yang terjadi adalah perselisihan tak berujung. 'azzam yang sebelumnya didengung-dengungkan sekan tak berbekas bahkan hilang sama sekali. Saat demikian dirasakan rumah tangga bagai neraka. Keadaan yang dulu saling menghargai, menyayangi terhambat oleh kebiasaan yang tak terduga diluar jangkauannya. 'azzam atau ketetapan hati memang mudah dilakukan. 'azzam pula yang menggerakkan seseorang untuk memutuskan sesuatu lantas merealisasikannya. 

Hal ini berbanding terbalik ketika seserang dituntut untuk tawakkal. Tawakkal artinya semua harapan akan terwujud jika ada kehendak Allah SWT. bila belum sesuati harapan maka itu adalah kehendak Allah SWT pula. Disitulah posisi hamba Allah. Pasangan suami istri dianjurkan untuk untuk berharap tetapi dalam waktu yang bersamaan juga diperintahkan untuk pasrah atas scenario Allah SWT.  Tawakkala sebenarnya akan menuntun seseroang untuk melihat pemahaman yang utuh bahwa pernikahan mengandung problematika yang ada didalamnya. 

Poin tawakkal juga mengarahkan keduanya untuk mengenal dan meyakini bahwa Allah sebagai ar Rahman, ar Rahim, al Aziz, al Hayy, al Qayyum. Nama nama tersebut mendorong keduanya untuk berhikmah pada nama Nya itu.

Dalam keluarga tawakkal merupakan poin penting yang tak dapat dipisahkan. Suami istri tidak akan berselisih berkepanjangan bila keduanya memiliki daya tawakkal yang mumpuni. Bukan berarti bahwa mereka tidak mengenal kelemahan masing masing. 

Tawakkal merupakan senjata untuknya pada saat kekurangan menyeruak ke permukaan saat perjalanan rumah tangga sedang berlangsung. Ikhtiar tawakkal tetap didengungkan bila keduanya berkkehendak untuk melanjutkan bahtera rumah tangga. 

Ada baiknya bila memperhatikan firman Nya berikut : "...kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkalllahkepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang brtawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran : 159).

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun