Mohon tunggu...
Alfonsus G. Liwun
Alfonsus G. Liwun Mohon Tunggu... Wiraswasta - Memiliki satu anak dan satu isteri; Hobi membaca, menulis, dan merefleksikan.

Dum spiro spero... email: alfonsliwun@yahoo.co.id dan alfonsliwun16@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Rasa yang Harus Diajarkan Orangtua dalam Pendidikan Seksual Anak

17 Desember 2021   21:36 Diperbarui: 17 Desember 2021   21:42 142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam dunia pendidikan, umumnya ada tiga tujuan yang yang harus capai oleh pendidik dan dididik. Pertama, tujuan kognitif, yaitu anak memahami, mengerti, dengan baik dan benar. Jika topiknya seksualitas maka anak harus memahami dan mengerti dengan baik dan benar tentang seksualitas. Bahwa seksualitas itu tidak hanya fungsi dan kegunaan anotomi manusia, tetapi seksualitas itu keseluruhan perilaku yang ada didalam diri seseorang, dengan segala macam latarbelakang hidup orang itu.

Kedua, tujuan afektif, yaitu anak merasakan, ada gerak positip dan negatip dalam dirinya. Rasa yang bergelora dalam diri seseorang harus mampu memilah oleh seseorang itu, mana yang disebut baik dan benar dan mana yang tidak.

Ketiga, tujuan psikomotorik, yaitu tindakkan seseorang baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Tindakkan itu pun harus diajarkan mana itu tindakkan yang positip dan berguna dan mana yang tidak.

Tujuan pendidikan seksual kepada anak pun, harus berpatok juga pada ketiga tujuan tadi. Anak harus diberi pendidikan seksual dimulai sejak dini. Anak memahami dan mengerti tentang bagian-bagian dalam dirinya yang menjadi "muatan kekayaannya" termasuk seksualitas.

Anak pun tidak hanya memahami dan mengerti, tetapi orangtua memiliki peran untuk mendidik tentang rasa yang ada didalam dirinya, termasuk gerakkan yang dirasakan anak mengenai "seksualitas".

Dengan menekankan "rasa" ini, konektivitas pemahaman dan pengertiannya, terhubung. Kalau "rasa" ternyata memiliki koneksi yang berbeda atau agak lain, disinilah sebagai orangtua sejak dini pula mengenal rasa anak. Kalau memang rasa anak itu "aneh" mungkin jalan terbaik orangtua ialah mencari cara dengan berkonsultasi kepada para ahli baik ahli kesehatan fisik maupun ahli mental (psikolog-psikiater).

Dalam pendidikan bidang apa saja perlu disampaikan kepada anak sejak usia dini. Juga termasuk bidang seksual. Seksualitas ialah perilaku, gerak tindakkan seseorang (dibaca: anak) baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Gerak tindakkan ini adalah sebuah "arena". Arena adalah panggung dimana buah-buah hasil pendidikan tadi muncul kepermukaan.

Karena itu, gerak tindakkan anak, tak boleh diabaikan. Harus selalu diperhatikan dan diberi pengulangan, semacam pengayakkan tentang suatu topik pendidikan. Gerak tindakkan anak yang benar orangtua perlu memberikan apresiasi, kalau memang salah, pendidik utama (orangtua) harus lebih memberikan perbaikan.

Sebuah Kisah Kecil dari Anak saya

Suatu ketika di tahun 2018, tanggal tepatnya saya lupa. Saat itu saya pulang kerja jam 15.30 wib. Sementara itu, isteri belum pulang kerja, dia masih harus singgah di rumah orangtuanya.

Anak saya waktu itu masih berumur 4 tahun. Umur sebegitu, kami mengajarkan anak untuk bisa mengambil celana, baju, dan lain-lain untuk bisa memakai sendiri. Kami sepakat, biar anak kami kelak bisa mandiri.

Hari yang sama itu, ada pergantian pengasuh anakku. Ada pengasuh baru di rumah. Umurnya 25 tahun. Sudah berpengalaman mengasuh anak selama ini. Karena pengalamannya itu, pagi sebelum kami berangkat kerja, kami pun tidak memberikan informasi banyak tentang situasi rumah dan anak kami.

Pengalaman yang tak pernah terlupakan anakku sampai dengan saat ini, adalah pengasuh salah ambil celana dalam (maaf) untuk anakku. Bukan celana dalam anakku yang diambil, tetapi mengalami celana mamanya. Anakku marah dan menangis. Katanya kepada pengasuh, tante itu bukan sempakku, itu sempak mama. Pengasuh bersikap keras, tetap memakai sempak mamanya kepada anakku.  

Saya sampai di rumah, anakku langsung lari menjumpai saya. Dia melaporkan kejadian ini. Anakku sambil menangis. Sedang menangis, dia mengatakan, papa, aneh tante itu. Sambung saya, kenapa nak? Papa, tante itu ambil sempak mama. Sempak mama, tante pakaikan ke saya. Saya sendiri senyum-senyum mendengar pengaduannya. Iya, sudah, nanti papa yang omong sama tante, cetusku.

Karena kata-kata saya bahwa akan saya omong kepada tante, anakku menantikan ini. Beberapa menit saya tidak omong kepada pengasuh. Anakku kemudian mendesak, papa harus omong. Kemudian, saya dekat pengasuh dan omong. Anak laki-lakiku itu, mendengarnya. Cetus anakku, papa harus tunjuk dimana pakaian saya ditempatkan, mana pakaian mama, dll kepada tante. Saya pun mengikutinya.

Secuil Kisah, Rasa-lah yang selalu hadir

Kisah sederhana ini, tetapi rasanya lain. Saya sebut "rasanya" lain, karena pendidikan pun menyentuh rasa. Rasa yang saya maksudkan ialah apa yang dialami anakku. Rasa inilah yang dialami dan diingatnya terus sampai sekarang. Bahkan, dengan teman-temannya dalam bermain bersama, anakku sempat-sempatnya menceritakan kepada teman sepermainannya. Ini soal rasa.

Rasa pun salah satu bagian dari seksualitas. Rasa ini harus diolah oleh anak. Anak bisa mengolah rasa, tergantung juga dari orangtua. Rasa ada yang mengarah pada hal positip dan ada yang mengarah pada hal negatif.

Hal kecil ini pun perlu dijelaskan. Bahwa rasa dapat diungkapkan namun harus dengan cara yang benar dalam tindakkan. Tidak merugikan orang lain, tetapi harus membawa efek positp bagi lingkungan sekitar. Jika tidak dijelaskan, hemat saya sulit bagi tumbuhkembang anak. Dampak dari secuil kecil yang dibuat pengasuh, anakku mengingat sampai sekarang. Yang dilakukan pengasuh menyentuh rasanya.

"Onderdir" motorik halus memberi respons otak kecil dan direkam, hingga tak pernah dilupakannya. Rasa-lah yang melukiskan "tabula" dan mendorong kehendak untuk melakukan sesuatu. Disinilah tahap pendampingan terhadap anak selalu menjadi prioritas orangtua. Ruang hemanis dan demokratis, selalu dibangun, sehingga "bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya", penggalan Lagu Indonesia Raya ini, memotivasi orangtua untuk memberikan pendidikan seksualitas atau pendidikan apapun terbaik untuk anak kita. Anak, generasi pewaris pendidikan nilai, dan karakter orangtua dan bangsa ini.***

Pangkalpinang, 17 Desember 2021

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun