“Kalo gini nanti dia masih mau jadi temanku gak ya?” “Aduh kalo aku buat salah pasti teman teman benci dan nyalahin aku” "Aku harus bilang 'iya' ke permintaan mereka meskipun aku cape. Kalau aku menolak, mereka mungkin akan kecewa atau marah."
Pernahkah kalian berpikiran seperti itu? atau mungkin menjadi sebuah kebiasaan bagi diri sendiri? Sadarkah kalian, bahwa kekhawatiran maupun ketakutan yang selalu ada dalam pikiran kita sebagian besar tidak pernah terjadi. Itu semua hanya ada dalam pikiran kita. Semua bayangan dan pikiran buruk yang kita bayangkan tentang bagaimana orang lain menilai kita itu semua hanya terjadi dalam benak kita. Mereka bahkan mungkin tidak menyadari perkataan maupun perbuatan –yang kalian anggap aneh– yang kalian lakukan, Namun, memang tidak ada yang bisa mengatur atau mengendalikan pikiran kita kecuali diri kita sendiri. Sejatinya, tidak semua manusia di sekeliling kita menaruh atensi besar terhadap eksistensi kita.
Metode Hidup Tenang
Disini mari kita berkenalan dengan suatu metode filsafat hidup yang dapat membuat hidup kita lebih tenang dan terhindar dari segala overthinking diatas, yaitu Stoikisme.
Secara garis besar stoikisme adalah sebuah filsafat hidup yang berasal dari Yunani Kuno, didirikan oleh Zeno dari Citium sekitar abad ke-3 SM. Filosofi ini menekankan pentingnya hidup selaras dengan alam dan akal budi, serta menerima kenyataan dengan tenang, tanpa membiarkan emosi negatif menguasai diri. Stoikisme mengajarkan kita untuk fokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan melepaskan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Prinsip utama dari stoikisme sendiri ialah untuk menanamkan dan memfokuskan diri terkait hal-hal yang berada dalam jangkauan atau kendali kita. Hal-hal yang sepenuhnya bisa kita kontrol dan kita arahkan bagaimana bentuknya. Dengan begini kita tidak akan terpaku dan terpengaruh oleh hal-hal luar yang tidak bisa kita prediksi dan kelola sendiri, menghantarkan ke kehidupan yang lebih tenang, nyaman, dan tentram.
Disiplin Aksi (The Discipline of Action)
Disiplin aksi dalam Stoikisme, yang juga dikenal sebagai filantropi Stoik, mengajarkan bagaimana kita seharusnya berperilaku di dunia dan bagaimana seharusnya kita bertindak terhadap orang lain serta alam semesta. Disiplin ini mengajarkan kita bahwa dibalik setiap tindakan kita memerlukan niat yang jelas dan maksud baik dibaliknya, idealnya untuk kebaikan bersama antar individu.
Menurut Marcus Aurelius, yang mengutip Epictetus, ada tiga pertimbangan penting dalam setiap tindakan kita dalam hidup.
3 Tahap Pertimbangan dalam Bertindak Untuk Hidup Tenang dan Damai
Menyadari dan menerima sedari awal bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai harapan
maksud dari tahap awal ini ialah, disaat kita ingin melakukan sesuatu tanamkan pada diri frasa seperti “Ini semua akan terjadi jika takdir mengizinkan” dengan mindset seperti itu, alam bawah sadar kita menerapkan ekspektasi yang tidak berlebihan sedari awal. Dalam hal ini, kita tetap berusaha semaksimal mungkin, tetapi sekaligus memahami bahwa akan ada selalu hal yang terjadi diluar kendali kita sehingga jika hal tersebut terjadi kita dapat menerimanya dengan tenang.
True fulfillment datang melalui tindakan yang bermanfaat untuk bersama.
Selama menjalani hidup, sejatinya tujuan kita ialah untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi satu sama lain dengan cara apapun. Setiap kita bertindak tetapkan dalam hati bahwa hal tersebut selaras dengan kebaikan bersama masyarakat, teman, dan keluarga. Niat baik tersebut akan menghantarkan kita ke kehidupan yang lebih tenang dan positif dalam menjalani hari
Fokus dengan hal yang sesuai dengan alam dan value kehidupan
Dalam kata lain, bertindak dengan cara rasional dan etis. Stoik percaya bahwa setiap hal di alam semesta memiliki keteraturan atau tujuan alami. Manusia juga memiliki tujuan, yaitu hidup selaras dengan alam. Ini melibatkan pemahaman tentang dunia di sekitar kita dan menerima sifatnya yang inheren, bukan melawannya. Ini mendorong kita untuk membuat keputusan yang sesuai dengan apa yang rasional, alami, dan moral. Dengan menjalani hidup mengikuti alur kehidupan dan alam niscaya hidup kita akan dipermudah dan berjalan teratur sebagaimana mestinya
Sangat penting untuk selalu membuka mata dan menyadari bahwa dunia dan alam semesta ini tidak dalam genggaman kita, tetapi kita memiliki kuasa terhadap dunia yang kita miliki dan jalani. Maka dari itu dari stoikisme kita belajar, jalanilah hidup dengan pola pikir yang sederhana dan tanamkan dalam diri bahwa dunia tidak hanya mengitari kita sendiri, ada banyak jiwa lain di dalamnya yang juga memiliki kehidupan.
"Kebahagiaan bukanlah hal yang terjadi pada kita, tetapi cara kita merespons dunia sekitar kita." – Epictetus
Kutipan ini mengingatkan kita bahwa Stoikisme mengajarkan kita untuk fokus pada apa yang dapat kita kontrol—yaitu, sikap, reaksi, dan keputusan kita—bukan pada faktor eksternal yang tidak kita kendalikan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H