"Ini soal ketekunan meminta dan memohon. Hakim yang lalimpun bisa ditaklukkan ketekunan meminta dari seorang janda yang tidak memiliki uang untuk menyogok. Intinya ketekunan dan berusaha terus menerus, pantang menyerah," kata kakek.
  "Oh begitu ya kek. Lalu apa hubungannya dengan keadaan pandemi corona kita  ini?"  tanya cucu.
  "Kita harus bertekun berdoa kepada Tuhan agar pandemi ini segera berlalu. Kita juga harus berusaha keras untuk bisa menaklukkan Covid-19 ini," kata kakek.
  "Bagaimana caranya?" tanya cucu.
  "Berdoa dan berusaha dengan baik. Berdoa terus menerus kepada Tuhan. Berusaha mematuhi segala aturan pemerintah. Bekerja terus dan kreatif mengatasi keterbatasan," kata kakek.
  "Apakah masih kurang doa kita meminta kepada Tuhan kek? Semua berdoa, tapi pandemi ini belum berakhir juga," kata cucu.
  "Banyak orang berdoa tapi tidak patuh kepada aturan PSBB. Itu namanya hanya peduli ke atas atau vertikal, tapi tak peduli ke samping dengan sesama manusia dan aturannya. Baiknya tekun berdoa ke atas, tapi patuhi aturan ke samping. Jadi vertikal dan horisontalnya bertemu. Itulah salib keselamatan," kata kakek.
  "Mantap juga khotbah kakek ini. Jelas, tegas, singkat dan tak bertele-tele yah, hebat!" kata cucu.
  "Ah kamu suka memuji berlebihan. Kakek kan bukan pengkhotbah," kata kakek.
  "Ya, tapi tadi cerita kakek tadi kan lebih dari khotbah kek. Kadang ada khotbah yang kita dengar dari pengkhotbahnya, sampai selesai khotbah yang kadang hampir sejam, kita tidak tahu apa intinya. Ini uraian kakek kan jelas. Sang janda dengan ketekunannya menaklukkan hakim yang lalim. Dia tekun dan berusaha terus, sampai hakim yang lalimnya menyerah. Mantapkan kek," kata cucu.
  "Ok, jadi kembali ke kisah tadi, jangan kamu alihkan ke khotbah dan pengkhotbah yang lain. Masa sulit ini kita harus lebih tekun lagi berdoa. Tapi doa kita kepada Tuhan, janganlah hanya meminta dan mengatur Tuhan," kata kakek.