Nah, pak Kapolda kita bisa juga kita pahami. Marah, membentak dan mengusir bisa saja itu tindakan spontan yang mengindikasikan bahwa dia mengawasi seluruh ruangan tempat dia bicara dan mengenali pakaian dinas anak buahnya. Ini keadaan perang, kode etik perang juga berlaku. Semua pasukan harus siap. Kalau tidak siap, keluarkan dari pasukan. Maka jadilah nasib sang Kapolsek dikeluarkan dari ruangan pertemuan, sekaligus dikeluarkan juga dari ruang kerjanya. Dicopot. Entah kemana tempat kerja yang baru.
Anak buahnya yang tertidur mendapat hukuman yang keras. Dimarahi, dibentak dan diusir dari ruangan. Dipanggil propam, lalu kalau kabar pencopotannya benar, maka lengkaplah hukuman yang dia terima. Malu dan dicopot dari jabatannya.
Nah, tibalah kita di ujung kisah dua orang yang tertidur dengan nasib berbeda ini. Dua anak buah yang teridur, dua nasib hukumannya.
Kata orang bijak, semua ada waktunya. Ada waktu tidur, ada waktu kerja. Ada waktu serius, ada waktu untuk santai. Kalau waktu tidur, tidurlah dengan baik dan tidur berkwalitas. Waktu kerja, kerjalah dengan baik, kerja yang berkwalitas.
Jangan kerja waktu jam tidur, dan jangan tidur waktu kerja. Ketika jam tidur tidak dipergunakan dengan baik, maka patut diduga akan tertidur waktu kerja. Nah kejadian seperti diatas akan menimpa anda.
Jika anda mempunyai pimpinan gaya prank Prabowo, anda akan malu karena divideokan. Kalau anda mempunyai pimpinan seperti Kapolda Jatim, anda akan malu dan dihukum pula.
Jadi sekali lagi ditekankan ya, tidurlah waktu tidur, kerjalah waktu kerja, jangan tertidur ketika waktu kerja.
Sekian dulu.
Terima kasih. Salam dan doa.
Aldentua Siringoringo
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H