Kali ini kita diskusikan dunia baru. Dunia masa depan.
Kedatangan AI alias artifisial intelejen. Ini adalah kenyataan. Adalah keniscayaan. Tak bisa dihindari.
Apakah ancaman bagi dunia penulis khususnya. Kala ada chat otomatis, yang dengan cepat bisa merangkai kata, bahkan menyajikan bentuk novel dengan mengintruksikan karakter tokoh yang diminta.
Jelas di atas adalah ancaman. Tapi ada suara harapan dari sudut lain. Harapan jika penulis mau mempercantik tulisan saban hari. Menyisipkan tulisan "bertuah".
Bertuah dalam arti luas pastinya. Tepatnya syarat akan makna dan pemaknaan yang mendalam.
Satu hal yang perlu diingat. AI tak punya hati dan rasa bahasa tulisannya tidak akan menyentuh hati. Menyentuh rasa komersial tentu. Ini ancaman sekaligus tantangan!
Masa depan yang mahal hanya satu. Apakah itu? Wisdom. Makanya belajar untuk mengasa rasa, bangun empaty dan punya atitude yang tinggi.
Terdengar sangat bertuah seperti nasihat. Tapi nyatanya hanya inilah yang mahal kedepan.
Mari diskusikan lebih jauh. Mari bicarakan secara serius. Kala ancaman silih berganti dan tak pasti. Semua berubah dengan cepat.
Intinya tak perlu takut dan kawatir pada teknologi. Dia akan terus berkembang. Jangan bimbang pada kedatangan arifisial yang canggih ini.
Segala yang artifisial itu bisa jadi kepura-puraan atau kebohongan yang mengada-ada.
(Penyair Senior, Sutardji Calzoum Bacri, 2023)
Ungkapan penyair di atas menotifikasi kesadaran kita. Betapa kehadiran kecanggihan bukan berarti menggantikan kejujuran.
Ancaman memang bagi material atau mungkin keuntungan akan semakin kapital. Hanya bertumpu ke pemodal.
Tapi satu hal yang perlu diingat bahwa. Kejujuran adalah segalanya. Di dunia kepenulisan, kejujuran bahkan ketulusan dalam menulis terus diperjuangkan.
Kira-kira sebagai anak melayu saya ingin merangkai kalimat demikan, jika kata susah bertuah maka hati akan gunda. Jadilah engkau pemilik makna bukan munafiq pada kata-kata.
Begitulah merangkau makna. Hadirkan diri apa adanya. Tetaplah menggores pena, merangkai kata satu persatu, susun lagi bagan paragraf yang sambung menyambung. Penuh spirit dan kecintaan. Inilah kecanggihan sesungguhnya mengalahkan kecanggihan artifisial itu sendiri.
Pada muara makna kita pun pada akhinya paham. Betapa menulis bukanlah prihal komersial atau material semata.
Menulis adalah seni hati, keindahan bertuah bahkan mampu jadi kekuatan doa paling lirik pada terangkainya keindahan kata.
Maka tetaplah menulis ditengah kecanggihan badai artifisial yang melanda. Titip doa dan harapan lewat pena yang kalin tulis. Salam hormat dari saya.
Salam.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI