Mohon tunggu...
Muhammad Akmal Latang
Muhammad Akmal Latang Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Melihat hidup ini dari perspektif sendiri, bukan mata orang lain

Kebaikan dan niat baik jangan dilihat darimana sumbernya !

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Anak-anak dan Remaja, Antara Kenakalan dan Krisis Identitas

28 Januari 2023   15:49 Diperbarui: 8 Februari 2023   15:16 1287
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Remaja sering dianggap sebagai masa yang cukup sulit karena banyak yang mengalami masalah dalam perkembangan mereka, seperti masalah sosial ekonomi, masalah keluarga, atau masalah psikologis.

Remaja dalam masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa, seringkali merasa tidak pasti akan siapa diri mereka sebenarnya dan bagaimana mereka harus berperilaku dalam masyarakat. Remaja sering mencari jati diri dan status sosial melalui tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Tindak pidana seringkali merupakan cara bagi remaja untuk mencari perhatian dan menunjukkan bahwa mereka ada, walaupun secara negatif.

Menurut data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia, tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja di Indonesia cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kasus yang dilaporkan kepada pihak keamanan setiap tahunnya.

Peradilan pidana anak  yang sering terjadi di Indonesia antara lain kasus pencurian, perjudian, penyalahgunaan narkoba, dan tindak kekerasan. Hal ini menjadi masalah yang cukup serius karena anak-anak dan remaja merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan negara ini.

Salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak dan remaja melakukan tindak pidana adalah lingkungan yang kurang positif. Banyak anak-anak dan remaja yang tinggal di lingkungan yang kurang baik seperti lingkungan kriminal atau lingkungan yang kurang mendukung perkembangan mereka. Dalam lingkungan seperti ini, anak-anak dan remaja lebih rentan terpengaruh oleh tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain.

Selain itu, masalah ekonomi juga menjadi faktor yang menyebabkan anak-anak dan remaja melakukan tindak pidana. Banyak anak-anak dan remaja yang tinggal dalam keluarga yang kurang mampu dan terpaksa melakukan tindak pidana untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Permasalahan pendidikan juga merupakan faktor yang menyebabkan anak-anak dan remaja melakukan tindak pidana. Banyak anak-anak dan remaja yang tidak memiliki akses pendidikan yang baik atau tidak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan usia mereka sehingga tidak memahami norma-norma sosial yang seharusnya diikuti.

Tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak atau remaja tidak dapat disebut sebagai "kenakalan" semata. Kenakalan diartikan sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat, namun tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak atau remaja lebih dari sekadar tindakan yang tidak sesuai dengan norma, melainkan merupakan tindakan yang melanggar hukum.

Anak-anak atau remaja yang mengalami masalah ini mungkin tidak memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan dan hanya mencari cara tercepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi sehingga kerap berujung merugikan orang lain atau dirinya sendiri. Oleh karena itu, tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak atau remaja harus ditangani dengan pendekatan yang berbeda dari tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa.

Pendekatan yang berbeda diterapkan dalam menangani tindak pidana yang dilakukan oleh remaja. Pendekatan rehabilitatif dianggap sebagai pendekatan yang lebih efektif dibandingkan dengan hukuman yang berat. Pendekatan ini berfokus pada pemulihan remaja yang melakukan tindak pidana dengan cara memberikan dukungan dan bimbingan agar dapat kembali ke jalur yang benar. Pendekatan ini juga berfokus pada pencegahan tindak pidana dengan cara memberikan pendidikan dan pelatihan kepada remaja agar dapat menghindari tindak pidana di masa depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun