Mungkin respon alami perut saja. Atau mungkin reaksi ketakutan. Orang Arab memang lebih gila kalau bawa mobil. Tapi dalam kondisi jalan sempit dan ramai kendaraan seperti ini, mereka tentu tak terbiasa.
Dalam acara peresmian masjidnya, donatur diberikan kesempatan menyampaikan sambutan. Jujur, hampir semua katanya tak saya pahami. Pikir saya, pasti seperti ucapan donatur-donatur lainnya saat kasih sambutan seperti ini. Terima kasih, harapan, dan semacamnya. Saya pun terjemahkan versi pemahaman saya pada hadirin yang manggut-manggut.
Selepas peresmian, pengurus mengundang kami ke rumahnya untuk makan jamuan syukuran peresmian. Tamu tak dapat menghadiri, sebab pesawat mereka ke Bali take off jam empat sore.
Saya beberapa kali meminta maaf pada pengurus itu dan menjelaskan kondisi tamu, sebab ia seperti memelas pada kami agar datang ke rumahnya.
Saya memacu mobil pulang jauh lebih kencang dibanding saat datang.
"Anta majnun, "Donatur berteriak. Entah ia memuji atau marah. Tapi saya tak peduli sebab jatah makan enak di rumah pengurus hilang. Eh bukan dong. Mau kejar jadwal penerbangannya ke Bali. Sementara kami masih berada di Bangkala jam satu siang.
Alhamdulillah, kami tak telat. Mereka bisa terbang. Kekesalan saya karena lapar agak terobati setelah donatur memasukkan sejumlah uang merah di kantong baju saya.
Ipar saya yang juga ikut acara peresmian dengan mobil lain sudah datang. Ia membawa satu kardus berisi seafood seperti udang besar, ikan, cumi, dan sebagainya. Kiriman dari pengurus yang katanya buat saya. Saya semakin bersyukur. Kami serumah bisa makan puas. Alhamdulillah.
Sejak saat itu saya mulai belajar bahasa Ammiyah. Tapi soal kentut, tak perlu.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H