"Shopaholic adalah keinginan yang tidak terkontrol dalam diri dalam hal berbelanja, lebih tepatnya Shopaholic sebagai gejala yang tidak biasa dengan menikmati belanja secara berlebihan, dalam rangka pengalihan pikiran yang tertekan". (Psikolog)
Barangkali di kalangan masyarakat umum, istilah Shopaholic belum populer, karena Shopaholic bisa kita amati dalam perilaku seseorang di tengah kehidupan sehari-hari.
Di lansir dari www.helloSehat.com, menuruh ahli psikologi Terrence Shulman, shopaholic terdiri dari berbagai tipe perilaku, yaitu:
1. Pembeli KompulsifÂ
Berbelanja untuk mengalihkan perasaan.
2. Pembeli TrofiÂ
Pembeli aksesoris untuk baju atau pakaian, meski barang tersebut berupa barang kelas atas.
3. Pembeli CitraÂ
Pembeli barang mahal seperti mobil, dan barang mewah lainnya, dengan tujuan untuk dilihat banyak orang.
4. Pembeli DiskonÂ
Pembeli suatu barang meski tidak dibutuhkan hanya karena sedang banting harga atau bisa disebut juga dengan pemburu diskon.
5. Pembeli KodependenÂ
Membelin suatu barang hanya karena untuk di cintai dan disukai oleh pasangan atau orang lain di sekitarnya.
6. Pembeli BulimiaÂ
Membeli hanya untuk di kembalikan, lalu kemudian membeli lagi.
7. Pembeli KolektorÂ
Kecenderungan untuk membeli satu set barang secara lengkap.
![Ilustrasi: via www.hellosehat.com](https://assets.kompasiana.com/items/album/2021/05/19/woman-435854-1280-60a4e2d28ede483931363c12.jpg?t=o&v=770)
Shopaholic merupakan gejala kejiwaan yang dimiliki oleh manusia, tetapi gejala seseorang tidak bisa kemudian dikatakan Shopaholic. Penting dan perlu kita cermati sebagai gejala kejiwaan dan mengenali ciri-ciri Shopaholic antara hobi dan gangguan mental. Beberapa hal yang perlu kita amati mengenai gejala Shopaholic adalah sebagai berikut:
1. Shopaholic berusaha sekuat tenaga untuk selalu di sukai oleh orang lain
Shopaholic memiliki kepribadian yang baik dan menyenangkan, serta tidak kasar terhadap orang lain. Kecenderungan karakter yang terisolir inilah yang menyebabkan perbedaan antara shopaholic dan non-spaholic berbeda.
Kecenderungan untuk berbelanja dan berinteraksi merupakan wahana yang sangat menyenangkan, dan Spaholic cenderung sangat baik dengan penjual sebagai hukum sebab-akibat.
2. Shopaholic memiliki harga diri yang rendahÂ
Harga diri yang rendah merupakan gejala yang umum bagi Shopaholic. Dengan rasa harga diri yang rendah itulah kemudian Shopaholic memiliki wahana untuk berbelanja, yang mengakibatkan lemahnya control salam diri.
Adapun menurut Shopaholic, berbelanja adalah wahana yang indah dan menyenangkan. Meski membeli barang yang tidak dibutuhkan, tetapi bagi Shopaholic proses berbelanja itulah yang di nikmati, dan di anggap sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan.
3. Shopaholic memiliki masalah emosionalÂ
Shopaholic juga memiliki masalah emosional, di mana emosi yang tidak stabil atau terjadinya perubahan suasana hati, menjadikan wahana berbelanja sebagai salah satu hal yang sangat menyenangkan.
Emosi yang labil tersebut karena didorong oleh faktor eksternal, menjadikan Shopaholic, beranggapan untuk menekan ketidak stabilan tersebut dengan melakukan belanja, meski hal tersebut bukanlah barang kebutuhan.
4. Shopaholic memiliki kesulitan mengontrol impulsÂ
Sesuatu yang alami dalam diri kita adalah impuls. Impuls ini merupakan dorongan seseorang untuk melakukan tindakan yang kurang mampu untuk di kontrol, terutama dalam hal berbelanja.
5. Shopaholic selalu memanjakan fantasiÂ
Shopaholic memiliki daya fantasi yang tinggi, hal tersebut menjadikan Shopaholic berfantasi tinggi, sebagai bentuk pengalihan dalam keruwetan hidup di dunia nyata.
Sementara disisi yang lain Shopaholic memiliki kecenderungan untuk berbelanja mengenai objek yang di inginkan sebagai bentuk pelarian, bukan sebagai kebutuhan.
6. Shopaholic cenderung materialistisÂ
Gejala Shopaholic yang lain menunjukkan adanya materialistis ketimbang non-Shopaholic, karena hal tersebut di dorong oleh kegemarannya untuk berbelanja. Meski belanja tersebut bukanlah hal yang dibutuhkan, tetapi Shopaholic lebih pada kepuasan untuk berbelanja.Â
Di samping itu pula ada dimensi lain dari Shopaholic, yakni dimensi materialisme dan dimensi rasa iri hati.
Dari pembahasan di atas, Shopaholic merupakan gejala umum yang bisa terjadi pada siapa saja, karena didorong oleh berbagai persoalan yang melatarbelakanginya.
Apakah kita masuk dalam salah satu kategori yang di bahas di atas? Maka Jawabannya iya, karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berbelanja dengan berbagai macam fantasinya. Tetapi fenomena tersebut ada kecenderungan kepada kaum hawa, yang menjadi kegemaran untuk berbelanja, walaupun kaum Adam juga bisa terjangkiti oleh Shopaholic.
Dengan demikian Shopaholic merupakan gejala umum adanya gangguan mental, hal tersebut tentu saja memiliki skala yang berbeda-beda, mulai dari ringan, sedang dan parah, maka kenalilah Spaholic tersebut kapan pun dan di mana pun berada, sebagai sebuah fenomena psikologi yang berdampak pada fenomena sosial.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI