Mohon tunggu...
Akbar Pitopang
Akbar Pitopang Mohon Tunggu... Guru - Berbagi Bukan Menggurui

Dikelola oleh Akbar Fauzan, S.Pd.I, Guru Milenial Lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Mengulik Sisi Lain Dunia Pendidikan Indonesia | Ketua Bank Sampah Sekolah, Teknisi Asesmen Nasional ANBK, Penggerak Komunitas Belajar Kurikulum Merdeka | Omnibus: Cinta Indonesia Setengah dan Jelajah Negeri Sendiri Diterbitkan Bentang Pustaka

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Monopoli Kantin Sekolah

10 Januari 2025   08:14 Diperbarui: 10 Januari 2025   17:24 141
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebuah insiden tak terduga mencuri perhatian di sebuah sekolah yang tengah melaksanakan kegiatan P5. Video viral memperlihatkan dagangan siswa yang berserakan di tanah karena dibuang oleh penjaga kantin. Tak pelak, peristiwa ini memantik perdebatan. Mengapa makanan yang dengan susah payah disiapkan siswa demi pengalaman berwirausaha malah berakhir di tong sampah?

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dicanangkan dalam Kurikulum Merdeka sejatinya bertujuan baik. Melalui tema kewirausahaan siswa diajak merasakan langsung tantangan dunia bisnis. 

Dengan penuh semangat siswa mencoba berjualan di sekolah dengan menawarkan hasil kreasi mereka kepada teman-teman. Sayangnya, semangat itu seolah pupus ketika dagangan mereka tidak mendapat tempat.

Mengapa siswa tidak boleh berjualan di sekolah?
Apakah keberadaan mereka benar-benar mengancam keuntungan kantin?
Ataukah ada dinamika lain yang belum kita pahami?

Kantin sekolah kerap menjadi tumpuan utama siswa saat istirahat. Dalam banyak kasus, penjaga kantin merasa keberatan jika ada siswa atau pihak lain turut berjualan makanan. Mereka khawatir pendapatan harian menurun akibat persaingan maupun retribusi kantin sekolah. Namun, benarkah demikian?

Bila di sekolah dengan siswa yang berjumlah ratusan maka kantin seharusnya tidak perlu khawatir. Potensi pembeli yang tinggi bisa menjamin pemasukan yang stabil. 

Sebaliknya, di sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit maka mencari untung seringkali dianggap lebih "susah". Bukankah rezeki telah diatur oleh Allah SWT?

Penjaga kantin seharusnya menyadari bahwa kehadiran dagangan siswa bukanlah ancaman. Bisa saja peluang untuk berkolaborasi. Bisa saja kantin turut memasarkan produk siswa dengan sistem bagi hasil. 

Kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Di banyak sekolah, siswa kerap menghadapi larangan keras untuk berjualan. 

Bahkan, di beberapa tempat kantin juga melarang siswa membeli makanan dari pedagang luar. Sikap ini justru menciptakan jarak antara kantin dan warga sekolah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun