Langkah awal saya sebagai Bendahara BOS diawali dengan penuh semangat, diikuti dengan pelatihan intensif menggunakan aplikasi SIPBOS KEUDA (Sistem Informasi Pengelolaan Dana BOS Keuangan Daerah).Â
Setelah mengikuti pelatihan dan mulai meresapi pengetahuan baru, tekad untuk terlibat sepenuhnya dalam pengelolaan dana sekolah memuncak, dan saya menyampaikan kepada Kepala Sekolah keinginan saya untuk menjadi Bendahara BOS dengan tanggung jawab penuh.
Saya sadar bahwa ada tanggung jawab yang sangat besar karena bersentuhan dengan masalah uang adalah sangat sensitif sehingga memerlukan komitmen maksimal.Â
Sebagai Bendahara BOS, saya ingin memegang kendali penuh dalam pengelolaan keuangan, mulai dari memegang uang hingga menyusun laporan keuangan dan melakukan rekonsiliasi.Â
Bagi saya, keputusan ini adalah langkah yang tak boleh setengah-setengah mengingat kompleksitas masalah keuangan sekolah yang harus dihadapi.
Namun, harapan saya untuk menjadi satu-satunya pengelola dana BOS tidak bisa diwujudkan. Saya bersikap legowo dan mencoba memahami bahwa mungkin ada pertimbangan yang lebih kompleks yang harus diakomodasi atau ditalangi oleh Kepala Sekolah.
Mungkin, penolakan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran operasional pengelolaan dana BOS, terutama dalam menghadapi kendala pencairan dana ke rekening sekolah yang kerap tersendat.Â
Meskipun saya batal menjadi Bendahara BOS, itu bukanlah masalah yang berarti. saya menyadari bahwa kolaborasi dan dialog terbuka sangat penting dalam mengatasi perbedaan pendapat.
Karena dalam pengawasan dalam pengelolaan dana BOS tetap diharapkan harus ada perhatian dan seluruh majelis guru demi kepentingan bersama.Â
Ekspektasi para Bendahara BOS terpilih
Ketika tak lagi menjadi Bendahara BOS, pada akhirnya ternyata membawa kesempatan besar untuk fokus pada pengembangan diri untuk proses belajar mengajar di ruang kelas.Â
Meski awalnya mungkin ada harapan untuk terlibat penuh dalam pengelolaan dana BOS, "pensiun dini" tersebut tidak menciptakan kekecewaan yang terlalu berarti.Â