"Papa kenapa begini?" tanya Alena melihat keadaan Dimas.
"Papa kena karma Alena, papa kecelakaan," ucap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak bisa melihat Alena sekarang, karena ia mengalami kebutaan.
"Kenapa bisa?"
 "Ini karma bagi seorang ayah yang melantarkan anaknya, menyakiti anaknya, papa menyesal Alena, papa sangat menyesal, papa sudah jahat sama kamu, papah bahkan menyakiti kamu secara fisik," Isak Dimas menyesali semua perbuatannya. Alena pun ikut menangis melihat Dimas yang menangis.
Sonya, mama Alena pun berada di rumah sakit, ia terkena tembakan di bagian perut.
"Maafin mama Alena, maafin mama," Isak Sonya.Â
Alena tersentak mendengar mamanya mengubah kata saya menjadi Mama. Alena membalas pelukan Sonya sangat erat. Ini adalah pelukan pertama soalnya untuk Alena. Pelukan yang didambakannya selama tujuh belas tahun.
"Maafin mama sudah menjadi ibu yang buruk bagi kamu, maafin dosa Mama ke kamu Alena," tangis Sonya semakin pecah.Â
Sonya dan Alena sama-sama menangis membuat semua orang yang ada di ruangan itu ikut terharu. Bagaimana seorang ibu yang menyadari kesalahannya selama ini. Sonya tak henti-hentinya menggumamkan kata maaf untuk Alena membuat Alena ikut menangis tanpa mengatakan apapun. Sonya juga sadar setelah insiden penembakan yang terjadi.
"Alena sudah maafin papa jauh sebelum papa dan mama minta maaf, nggak ada anak yang nggak mau memaafkan orang tuanya, karena setiap anak pasti mencintai orang tuanya, hanya satu permintaan Alena untuk papa dan mama, Alena mau ulang tahun Alena dirayakan bersama kalian, papa bisa beliin kue ulang tahun untuk Alena."
Dimas mengangguk. "Papa bakalan kabulin permintaan kamu, papa bakalan beliin kue sebanyak yang kamu mau."