Adanya kesenjangan antara harapan dan realitas atas hubungan yang dimiliki seseorang dapat mengarahkan pada kondisi yang tidak menyenangkan  yang disebut loneliness (Perlam & Peplau, 1981). Ditinjau dari jenis hubungan yang dimiliki, terdapat beberapa tipe loneliness yaitu romantic emotional loneliness, family emotional loneliness, serta social loneliness (DiTommaso & Spinner, 1993).
Di era milenial, dan seiring berkembangnya zaman, pemuda dituntut harus lebih aktif, kreatif, dan inovatif mengingat daya saing dan kompetisi yang semakin kuat. Seperti dalam teori transformasi diri, pemuda harus bertransformasi sesuai dengan perkembangan zaman. Bertanggung jawab sepenuhnya pada diri sendiri serta pengendalian emosi merupakan aspek yang penting dalam proses menjadi orang dewasa.Â
Teori sosiologi tentang pemuda, yaitu teori transformasi diri menjelaskan perubahan diri pemuda bisa dilihat dari 6 aspek yaitu fisik, penampilan, berkembangnya sudut pandang dan pemikiran, psikologis dan sosiologis. Perubahan atau transformasi diri ini disebabkan oleh adanya kesadaran. Kesadaran adalah pemahaman manusia atas pengelamannya sendiri, yang memungkinkan untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan keadaannya.
Dalam Teori Perjuangan Kelas oleh Karl Marx, bahwa pada diri individu pemuda itu memiliki jiwa resistensial yang dia akan memperjuangkan dirinya maupun memperjuangkan kehidupan masyarakatnya. Orientasi  perjuangan kelas ini tidak terlepas dari aktivitas-aktivitas anak muda yang selalu melakukan perubahan.
Maka dari itu, pemuda harus bisa lepas dan bertranformasi dari belenggu quarter life crisis dan loneliness. Hal-hal yang dapat dilakukan, pertama, dengan focus pada tujuan hidup. Pemuda harus menjadi diri sendiri dan menanamkan karakter serta kepribadian yang kuat agar tidak mudah goyah. Seberat apapun tantangan yang dihadapi, pemuda harus berusaha menemukan solusi untuk memecahkannya. Pemuda harus focus pada tujuan hidupnya, maka akan lebih mudah untuk mencapai target-target dalam hidupnya.
Kedua, memetakan batasan. Pemuda harus mengetahui batasan-batasan dalam dirinya. Pemuda harus tahu mana jalan yang paling cocok, strategi apa yang paling tepat, dan batasan apa saja yang tidak boleh dilanggar, dan juga harus mengetahui segala resiko dari pilihan yang diambil. Dengan begitu, ketika gagal, maka tidak akan merasakan kekecewaan yang terlalu mendalam.
Ketiga, membangun motivasi diri. Untuk tetap berpegang teguh pada diri sendiri, pemuda harus memiliki motivasi diri yang kuat. Berani menggambil tantangan dan jalan yang berbeda dari orang lain bukan merupakan sesuatu yang salah. Ketika berusaha melakukannya dengan menjadi diri sendiri, maka pada akhirnya akan menimbulkan kepuasan terhadap diri sendiri serta menimbulkan kebahagiaan.
Keempat, menjaga prinsip. Dengan menjadi diri sendiri, secara tidak langsung itu merupakan keyakinan terhadap diri sendiri. Yakin bahwa semua akan terlewati dengan sendirinya. Dengan menjaga prinsip hidup, pemuda akan lebih kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi.
Daftar Pustaka
Artiningsih, Rizky A., dan Siti Ina S. 2021. Hubungan Loneliness Dan Quarter Life CrisisÂ
Pada Dewasa Awal. Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 8. No. 5.