Mohon tunggu...
Aidhil Pratama
Aidhil Pratama Mohon Tunggu... Administrasi - ASN | Narablog

Minat pada Humaniora, Kebijakan Publik, Digital Marketing dan AI. Domisili Makassar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dampak Kecelakaan Pesawat dalam Konteks Geopolitik

31 Desember 2024   19:00 Diperbarui: 31 Desember 2024   17:25 32
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi keselamatan penerbangan. (KOMPAS/SUPRIYANTO) 

Dua kecelakaan pesawat tragis mengungkap dampak konflik geopolitik dan tantangan keselamatan penerbangan di dunia modern.

Menjelang pergantian tahun, dunia seharusnya bersiap merayakan resolusi dan harapan baru. Tapi kenyataannya, beberapa insiden tragis malah mengaburkan semangat tersebut. 

Dalam sepekan terakhir tahun 2024, dua kecelakaan pesawat menjadi sorotan dunia: jatuhnya pesawat AZAL di Kazakhstan akibat konflik geopolitik, dan tergelincirnya pesawat Jeju Air di Korea Selatan karena masalah teknis.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dan mengapa kedua peristiwa ini penting untuk kita cermati, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari kacamata politik global? 

Kecelakaan Pesawat AZAL: Konflik yang Menghantui Langit Sipil

Menurut Antara News, kecelakaan pesawat AZAL terjadi pada 25 Desember 2024 di Aktau, Kazakhstan. Pesawat ini tertembak rudal Rusia saat melenceng dari rute yang seharusnya. 

Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menyampaikan permintaan maaf, tetapi hal ini tidak menghapus fakta bahwa konflik Rusia-Ukraina telah merembet ke wilayah yang seharusnya aman bagi penerbangan sipil.

Insiden ini menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah wilayah udara sipil kini menjadi target dalam konflik geopolitik? 

Kanselir Jerman Olaf Scholz menegaskan bahwa perang Rusia-Ukraina telah menciptakan risiko besar bagi keselamatan internasional. 

Banyak orang tak bersalah menjadi korban, bukan hanya di darat, tetapi juga di udara. Hal ini menegaskan betapa gentingnya situasi global saat ini.

Kecelakaan Jeju Air: Alarm untuk Keselamatan Teknis

Sementara itu, di Korea Selatan, pesawat Jeju Air mengalami nasib nahas pada waktu yang hampir bersamaan. 

Menurut Viva, pesawat tergelincir saat mendarat tanpa roda di Bandar Udara Internasional Muan. Kombinasi cuaca buruk dan kemungkinan masalah teknis disebut sebagai penyebab utama.

Kecelakaan ini tidak hanya merugikan maskapai dari sisi finansial---saham Jeju Air langsung anjlok---tetapi juga mencoreng reputasi maskapai berbiaya rendah. 

Pemerintah Korea Selatan segera memerintahkan pemeriksaan seluruh armada Boeing 737-800 untuk memastikan tidak ada cacat teknis yang terabaikan. 

Berdasarkan laporan Indozone, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa keselamatan penerbangan adalah prioritas utama.

Ketika Politik dan Teknologi Bertabrakan

Dua kecelakaan ini menggarisbawahi satu hal penting, bahwa penerbangan modern tidak kebal terhadap pengaruh eksternal, baik itu konflik geopolitik maupun tantangan teknis. 

Dalam kasus AZAL, kita melihat bagaimana perang dapat merusak batas-batas keamanan yang sebelumnya dianggap sakral. 

Sebaliknya, kecelakaan Jeju Air menunjukkan bahwa meskipun konflik tidak terlibat, tantangan teknis tetap menjadi ancaman besar.

Apakah ini kebetulan? Atau mungkin ini cerminan dari ketidakmampuan dunia internasional untuk menjaga keselamatan penerbangan? 

Yang jelas, kedua insiden ini menuntut kita untuk berpikir lebih dalam tentang hubungan antara teknologi dan politik.

Implikasi bagi Indonesia

Apa kabar keselamatan penerbangan di Indonesia? Kita tahu, Indonesia juga memiliki sejarah panjang kecelakaan pesawat. Namun, apakah kita benar-benar belajar dari insiden tersebut?

Melihat apa yang terjadi pada AZAL dan Jeju Air, ada dua pelajaran besar yang bisa kita ambil:

1. Keamanan Geopolitik: Indonesia harus lebih aktif dalam diplomasi internasional untuk memastikan wilayah udaranya tetap aman. Konflik di negara lain bisa saja berdampak pada rute penerbangan kita.

2. Keselamatan Teknis: Pemeriksaan rutin dan ketat harus menjadi standar wajib, terutama untuk maskapai berbiaya rendah yang sering menjadi pilihan utama masyarakat.

Kesimpulan

Kecelakaan pesawat AZAL dan Jeju Air bukan sekadar tragedi. Mereka adalah pengingat bahwa dunia kita semakin kompleks, di mana teknologi dan politik sering bertabrakan. 

Jika kita ingin langit tetap aman, maka kita harus mulai dari darat: menyelesaikan konflik geopolitik dan memastikan protokol keselamatan teknis diikuti tanpa kompromi.

***

Referensi:

  • Antara News. (2024, Desember 31). Jerman tuding perang Rusia-Ukraina sebabkan pesawat Azerbaijan jatuh. https: //babel. antaranews. com/berita/457066/jerman-tuding-perang-rusia-ukraina-sebabkan-pesawat-azerbaijan-jatuh
  • Viva. (2024, Desember 31). Terlibat kecelakaan mematikan, saham maskapai Jeju Air terjun bebas. https: //www. viva. co.id/berita/dunia/1785883-terlibat-kecelakaan-mematikan-saham-maskapai-jeju-air-terjun-bebas
  • Indozone. (2024, Desember 31). Kanselir Jerman tuding perang Rusia-Ukraina penyebab kecelakaan pesawat Azerbaijan Airlines. https: //news. indozone.id/world-update/915476743/kanselir-jerman-tuding-perang-rusia-ukraina-penyebab-kecelakaan-pesawat-azerbaijan-airlines

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun